"Va, aku mau bilang sesuatu.."
"Apa? Bilang aja.."
"Setelah lulus nanti, aku bakal kuliah di Jerman, ikut papah ku"
"Oh.."
"Va? Kamu marah ya sama aku?"
"Ah, enggak kok. Terus, kamu berkunjung ke Indonesia, kapan?"
"Setahun sekali"
Itulah yg dia ucapkan lima tahun lalu. Saat kami masih
kelas 3 SMA. Setelah kelulusan, ia benar benar pergi. Pergi dan belum kembali.
Aku masih menunggunya. Dan akan terus menunggunya.
"Mevaa.."
"Iyaa, Mah?"
"Kamu ngapain disitu? Kok belum berangkat kerja?"
"Ah, nanti aja"
"Udah jam sembilan lho"
"Jam sembilan?!" aku terkejut. Aku ingat, jam
sepuluh nanti aku ada jadwal meeting sama client. Aku langsung berlari ke
kamarku, mengganti pakaianku tanpa memerdulikan mamah yg bingung melihat
tingkahku. Setelah berpakaian, aku langsung berlari kebawah.
"Kamu kapan dewasanya, Meva? Kalau kerja aja masih
mama ingetin.."
"Ini juga udh dewasa kok, Ma. Buktinya Meva udah bisa
cari uang sendirikan"
"Kalau itu sih iya, tapi tingkah kamu masih manja
terus, hayo apanya yg dewasa?" ucap mama sambil membuat kue
"Aaahhh, Mamaa.." aku langsung duduk dilantai
seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Mungkin faktor anak tunggal lah
yg membuatku manja seperti ini.
"Tuhkan, baru aja mama bilangin. Udh langsung kayak
gitu lagi. Ayo bangun, nanti baju kamu kotor.."
"Gak mau"
"Eh, ayo bangun"
"Buatin aku jus dulu"
"Mama ambilin jeruk nih"
"Aaahh, enggak maaaa" jeruk. Ya, buah
berwarna orange itu jurus pamungkas mama kalau aku lagi ngambek kayak gini
"Nah, makanya bangun.."
"Iya iya" aku pasang wajah cemberut ku
secemberut-cemberutnya.
"Nah, gitu dong" mamaku tersenyum
"Gitu apanya.. Iyaudah, ma, aku berangkat dulu" ucapku sambil memakai tasku
"Iyaaa, hati hati ya.."
"Ya, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Sesampainya dikantor, aku langsung duduk. Tiba tiba, aku teringat sesosok laki-laki memakai baju putih abu-abunya sedang memegang minuman sambil tertawa. Andre. Iya, itu Andre. Langsung kubuang jauh-jauh pikiran itu. Sekretarisku masuk.
"Bu, client kita sudah datang"
"Iyasudah, tolong kamu persiapkan data-data untuk meeting kali ini"
"Baik, bu."
Bekerja diperusahaan Papaku, membuatku langsung berpangkat direktur. Tak heran, banyak laki-laki diluar sana yg mengejar-ngejarku. Tidak. Bukan mengejarku, tetapi kekayaanku.
"Selamat pagi"
"Selamat pagi" ucap clientku dengan senyumnya. Senyumnya sangat manis. Tapi tunggu, senyumnya... Ya, senyumnya! Aku seperti mengenalnya! Dua laki-laki itu menatapku, memperhatikan ku yg sedang terpaku.
"Bu?"
"Oh. Iya?"
"Ada yang salah?"
"Em, tidak, tidak ada"
"Kenalkan, saya Meva Juniar"
"Saya, Andre Alfiano, ini rekan saya, Arif Saputra"
"Baiklah, kita mulai sekarang"
Lalu, kamipun membahas tentang kerja sama perusahaan kami. Aku tetap memperhatikannya, dia, dia benar-benar Andre! Andre-ku yang dulu! Tapi, dia tampaknya biasa saja. Apakah dia mengenaliku?
"Baiklah, saya rasa pertemuan kita cukup sampai hari ini. Terima kasih." Aku langsung meninggalkan ruangan tersebut. Aku menuju ruanganku. Kubuka komputer ku. Kembali kubuka folder dimana isi dari folder tersebut adalah masa putih abu-abuku.
"Dia benar-benar Andre" Gumamku.
Tak lama kemudian, sekretaris ku masuk lagi. Tapi, ia tidak sendiri. Ia bersama.. Tunggu, siapa laki-laki itu? Kucoba ingat-ingat lagi. Aku hampir mengingatnya. Ya, aku benar-benar mengingatnya! Dia.. Dia Andre!
"Bu, Pak Andre ingin menemui Ibu"
"Ohiya, silahkan. Silahkan masuk."
"Saya permisi, bu"
"Iyaa, silahkan"
Laki-laki itu duduk didepanku. Benar-benar didepanku!
"Masih mengingatku?"
"Eh? Hem" Aku gugup. Benar-benar gugup. Dia mengingatku!
"Aku Andre, Va.. Apa kamu lupa?"
"A.. Andre? Aku ingat. Ya, aku.. Aku ingat"
"Apa kabar, Va?"
"Baik, kabarmu sendiri?"
"Baik-baik saja"
"Oh, ba.. baguslah"
"Va?"
"Iyaa?"
"Beri aku nomor pin mu"
"Em, baiklah. 2458****"
"Baiklah, tolong diterima, ya. Aku pulang dulu"
"Iyaa, hati-hati ya"
"Iyaa.."
Ah! Dia mengenalku. Senang sekali rasanya. Tetapi, bukan. Bukan hanya senang. Aku juga merasa marah, kecewa, dan benci kepadanya. Mudah sekali rasanya menjadi dia. Datang dan pergi seenaknya saja. Tapi bagaimanapun, aku tetap mencintainya.
"Ah, bbm. Ya, kontak bbmnya!" Langsung kubuka smartphone ku. Ya, ada undangan darinya. Langsung kuterima. Kulihat, display picture nya. Anak kecil? Anak siapa ini? Anaknya kah? Jadi, dia sudah menikah?
'PING!!!' Tiba tiba dia mengirimkan bbm kepadaku.
'Hai, Meva'
'Hai'
'Sedang apa?'
'Hah? Seperti abg aja pertanyaan kamu'
'Gak makan siang? Udah jam makan siang lho'
Langsung kulihat jam, ternyata benar, sudah jam makan siang.
'Iya, aku sedang menuju kantin'
'Baiklah, kutunggu'
'Hah? Memangnya sedang dimana kamu?'
'Ayolah, cepat ke kantin'
Langsung kurapikan mejaku dan bergegas kesana. Seribu pertanyaan dibenakku. Dia dimana? Siapa anak itu? Apa dia telah menikah? Kapan dia menikah? Kupercepat langkahku, aku semakin penasaran dengan semua ini. Tiba dikantin, aku melihatnya sedang duduk dan tersenyum kearahku. Kuhampiri mejanya.
"Kok kamu disini, Ndre?"
"Iya, aku tunggu kamu tadi"
"Aku kira, kamu pulang"
"Inginnya sepergti itu, tapi ada yg aku mau omongin sama kamu"
"Eh? Tentang apa?"
"Tentang kita dulu"
"Maksudmu?"
"Tentang hubungan kita"
"Bukankah kamu sudah memiliki istri? Anak itu?"
"Istri? Anak? Tunggu-tunggu, maksudmu apa?"
"Display picture bbm mu"
"Ah, itu.. Dia, keponakan ku"
"Keponakan?"
"Iyaaa, yaudah, kita lupain aja. Aku mau ngomong serius sama kamu"
"Baru ketemu dan langsung serius? Baiklah"
"Hem, aku mau.. Kita menikah"
"Menikah?!"
"Iyaa, Va.. Menikah.. Kamu mau gak jadi istri aku?"
"Gak, aku gak mau"
"Kamu beneran gak mau? Aku serius, Va. Oke, mungkin aku pernah tinggalin kamu, tapi itu dulu, sekarang kamu liat mata aku. Aku benaran serius sama kamu."
"Aku belum selesai ngomong, Ndre. Makanya dengerin dulu dong.. Aku gak mau, gak mau nolak maksudnya"
"Kamu serius?"
"Enggak, aku bohong.."
"Mevaa?"
"Iya aku serius!"
"Baiklah, Va! Baiklah! Terima kasih. Aku menyayangimu. Besok malam, aku dan keluargaku akan kerumahmu. Bersiaplah" Matanya berbinar, aku tau dia benar-benar senang. Seandainya dia tau, aku lebih senang darinya.
"Secepat itukah?" Aku terkejut. Dia benar-benar serius.
"Iya, Va, iya. Aku gak mau kehilangan kamu lagi"
Aku tersenyum. Ternyata penantianku selama bertahun-tahun ini membuahkan kebahagiaan. Kami dipertemukan kembali. Ternyata benar, semua akan indah pada waktunya. Terima kasih, Tuhan.
Thanks, guys sudah membaca ceritanya. Saran dan kritik sangat ditunggu ya :)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar