Sabtu, 22 Februari 2014

Belum Saatnya

   
   Pagi ini cuacanya agak mendung, jadi mau gak mau ya aku harus berjalan lebih cepat. Kota Bandung memang memiliki cuaca seperti ini, tapi ini berbeda, nampaknya beberapa belas menit lagi akan turun hujan. Jarak dari rumah kesekolah cuma beberapa puluh meter aja, jadi ya aku lebih milih untuk berjalan kaki. Selain udara yg sejuk, bisa melancarkan peredaran darah juga kan. Akhirnya, sampailah aku disini, didepan gerbang sekolah. Aku sekarang duduk dibangku kelas 8 SMP. Aku langsung bergegas menuju kelas.
'Bruk!'
Ah sial! Siapa yg menabrakku?
"Em, maaf, maaf. Saya gak sengaja" Ucapnya sembari membereskan bukuku yg jatuh.
"Iya udah gak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati" Jawabku ketus.
"Iya iya, saya benar-benar gak sengaja" Pintanya sekali lagi.
"Iyaa gak apa-apa"
Kulihat wajahnya, hem, orang asing rupanya. Sepertinya, anak baru. Terlihat dari gayanya yg memakai putih-biru dan memakai jaket biru. Padahal seharusnya ia memakai batik.
"Anak baru, ya?" Aku mencoba bertanya.
"Hem, iyaa, kenalin saya Radit" Sahutnya seraya mengenalkan diri.
"Gue Lea, anak 81. Lu kelas berapa?"
"Hem, lo beneran kelas 81?" Tanyanya.
"Iya, kenapa?" Tanyaku balik.
"Tadi, gue abis keruang kepsek, terus katanya gue ditempatkan dikelas 81 juga.." Jelas Radit.
"Oh, gitu. Iya udah, gue ke kelas dulu ya" Aku bergegas.
"Hey, tunggu.. Bareng ya?"
"Iyaaa"
  Sesampainya dikelas, aku langsung menyuruh Radit duduk sebangku dengan Rafa. Kalau dilihat-lihat, Rafa dengan Radit sangat berbeda. Rafa dengan kacamatanya dan rambut yg disisir rapi ala anak kutu buku, sedangkan Radit dengan rambut yg dimodelkan dan jaket birunya yg membuat dia semakin terlihat keren. Ku akui, ia memang lumayan keren.
"Duh, pagi-pagi udah ama yg bening-bening aja nih. Siapa sih itu Le?" Celetuk Shafa.
"Anak baru. Kenapa?"
"Keren banget ya ampun" Ucap Shafa kagum.
"Biasa aja ah." Sahutku.
"Ih, keren tau. Lu gak suka apa sama dia?"
"Biasa aja."
Lalu, guru ipa masuk kelas. Aku langsung menghampiri.
"Ibu, ada anak baru. Disuruh perkenalkan diri aja dulu, ya, bu?"
"Yang mana? Coba kamu panggil sini" Ibu Rani celingukan
"Iyaa, bu"
Aku menghampiri mejanya. Dia menatapku seakan-akan ingin melahapku.
"Biasa aja dong liatnya. Lo disuruh kedepan tuh" Ucapku ketus.
"Iya, ini udah biasa. Malah paling biasa" Jawabnya.
"Apanya yg biasa? Udah sono kedepan buru"
"Iya"
  Lalu dia berjalan kedepan.
"Yaampun, jalannya aja keren banget" Ucap Shafa dengan kagumnya.
"Alah, lebay banget sih lu. Kasih tau gue, bagian mananya yg keren?" Ucapku.
"Semuanya!" Jawabnya semangat.
"Halah"
"Perkenalkan nama saya Muhammad Raditya. Saya siswa pindahan dari Bogor" Ucapnya didepan kelas
"Namanya aja keren banget. Em, gue jatuh cinta pada pandangan pertama" Ucap Shafa tanpa mengedipkan mata ke arah Radit.
"Pret!" Jawabku.
"Ada yg mau ditanyakan?" Tanya Bu Rani.
"Saya mau nanya, bu!" Shafa mengangkat tangan.
"Iya, silahkan Shafa" Ucap Bu Rani.
"Nomor pin bb berapa?" Tanya Shafa. Sontak satu kelas tertawa.
“Udah, gak usah dikasih gak apa-apa” Celetukku. Kalau dipikir kan kasian juga Shafa, saking sukanya sampe kayak begini kelakuannya.
“Hahahaha, iyaudah.. Ada pertanyaan lagi?” Tanya Bu Rani.
Sekelas diam, sepertinya tidak ada.
“Iyasudah, kalau tidak ada, kita lanjutkan pelajarannya ya. Radit, terima kasih. Kamu boleh duduk kembali” Ucap Bu Rani.
“Iyaa, bu. Terima kasih”
“Iyaa”
Radit kembali duduk. Saat pelajaran berlangsung, aku merasa ada yg memperhatikan aku. Kulihat Shafa, dia sedang serius kepada pelajaran. Lalu kutengok Radit.. Ya, dia sedang melihatku. Dia langsung mengalihkan pandangan setelah aku memergoki dia sedang memperhatikanku. Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi.
“Lea, kantin, yuk?” Ajak Shafa.
“Em, lo duluan aja. Gue lagi nanggung nih. Dikit lagi” Sahutku masih mengerjakan tugas.
“Yah, iyaudah deh. Mau nitip gak?”
“Boleh, roti aja satu ya. Yang rasa keju”
“Okay,”
Kulihat Radit juga masih terpaku dengan tugasnya. Tidak terlalu memperdulikannya, aku kembali konsentrasi ke tugasku.
“Lea..” Panggil Radit. Ya, sepertinya Radit. Karena hanya ada dia dan aku dikelas.
“Iyaa?” Sahutku tanpa menoleh sedikitpun.
“Em, kantin dimana, ya?”
“Oh, itu. Dari sini, lurus aja sampe ujung, terus belok kanan dan kekiri dikit.”
“Oh, gitu. Lu udah selesai belum?”
“Em, dikit lagi” Jawabku masih terus menulis.
“Oh..” Jawabnya.
“Yap, udah selesai nih. Kenapa?” Tanyaku.
“Kekantin bareng, yuk?” Tawarnya.
“Okay”
Kamipun berjalan menuju kantin. Kulihat dari gerak-geriknya, nampaknya ia canggung. Ternyata, cowok cool kalo lagi canggung tuh lucu ya..
“Kenapa pindah kesini?” Tanyaku mencairkan suasana.
“Eh? Em, Mama dipindahkan kerja kesini.” Jawabnya.
“Oh, berarti disini lo sama mama lo aja?”
“Iyaa”
Dari tadi kami jalan, sepertinya banyak perempuan yang memperhatikan. Tapi sepertinya bukan memperhatikan kami, tapi hanya Radit. Aku tidak. Sampai akhirnya, Fera, anak yg terkenal satu sekolah menghampiri kami.
“Hai, anak baru, ya?” Sapanya kepada Radit.
“Iyaa”
“Pindahan dari mana?”
“Bogor”
“Oh iya, nama lo siapa?” Fera mulai menjalankan aksinya.
“Em, Radit, gue duluan ya. Bye” Ucapku.
“Oh, jadi nama lo Radit?”
“Iya. Eh gue kekantin dulu ya.” Ucap Radit lalu sedikit berlari mengejarku.
“Lea, tunggu” Teriaknya. Aku langsung berhenti dan menoleh.
“Ayo, cepet” Sahutku. Dia langsung menghampiriku.
“Yang tadi itu siapa sih?” Tanyanya.
“Oh, itu.. Dia Fera. Paling famous satu sekolah” Jawabku.
“Oh, gitu”
“Iya, kenapa? Lu suka, ya?”
“Ih, enggaklah. Sok tau banget lu”
“Dia tadi udah mau modusin lo tuh” Ucapku. Jengkel juga sih rasanya.
“Ah, udahlah.. Gak usah dibahas lagi” Jawabnya.
Dikantin, kami memesan dua nasi goreng special dan dua gelas jus alpukat. Aku lihat dia, cara makannya, cara minumnya, ah dia terlihat berbeda. Aku merasa ada suatu getaran dihatiku, sepertinya, aku mulai.... ah tidak.
“Eh, kok ngelamun?” Tegurnya mengagetkanku.
“Eh? Em, enggak tuh.”
“Udah cepet abisin. Abis itu temenin gue jalan-jalan. Anterin gue kesetiap sudut sekolah” Pintanya. Eh, bukan, bukan meminta. Tapi mengultimatum. Huh.
“Enak aja. Emang lu siapa nyuruh-nyuruh gue begitu?” Jawabku ketus.
“Lo ketua kelas, lo orang pertama yg gue kenal, lo orang yg gue traktir dan lo orang pertama yg deket sama gue”
“Eh, tunggu-tunggu. Traktir? Kapan lo traktir gue?”
“Sekarang, gue bakal traktir lo”
“Serius? Okelah, gue terima. Hahaha”
Setelah makan, aku langsung menemani Radit dan mengenalkan setiap bagian sekolah ini ke Radit. Terkadang, dia meledekku. Atau malah aku yg meledeknya. Kami tertawa bersama. Padahal baru hari pertama kenal, tapi rasanya seperti sudah lama kenal. Lalu, kami kembali kekelas. Sampai dikelas, kami melihat Shafa sedang cemberut.
“Lo kenapa, Shaf?” Tanyaku.
“Gak, kok. Gak apa-apa.” Jawabnya.
“Apanya yg gak apa-apa? Tuh muka lo kusut banget.”
“Enggak, gue gak apa-apa. Udah, nih tadi lo pesen roti. Nih rotinya”
“Astaga! Gue sampe lupa. Aduh, sorry banget ya, Shaf.. Sorry banget”
“Iyaa udah gak apa apa”
Saat pelajaran berlangsung, aku baru sadar. Ternyata penyebab kecemberutan Shafa adalah karena dia cemburu. Ya, tepat sekali. Dia cemburu. Aku baru sadar, Shafa menyukai Radit.
“Shaf?”
“Yaa?”
“Lo tadi cemburu, ya? Maaf ya, gue gak maksud apa-apa kok”
“Cemburu? Ya enggak lah, Le. Gue malah seneng lo deket sama Radit”
“Ih, maksud lo apa sih? Gue gak suka kok sama Radit. I swear.”
“Em, udah, gak usah dibahas lagi. Gue gak bakal marah sama lo. Okay?”
“Bener, ya? Okaaayyy.”
Sepulang sekolah, saat aku berjalan. Aku melihat Shafa sedang mengusap matanya. Rumahnya dari sekolah agak jauh, jadi ia dijemput menggunakan mobil. Aku bertanya-tanya, kenapa Shafa mengusap air matanya? Apakah dia menangis? Menangis kenapa? Aku langsung buru-buru jalan ke rumah. Dua jam sampai dirumah, aku langsung menelepon Shafa. Dia mengangkat teleponku.
‘Halo, Shaf?’
‘Halo?’
‘Shaf? Lo gak apa-apakan?’
‘Hah? Enggak, gue gak apa-apa. Lo nelepon ada apa, ya?’
‘Em, Cuma iseng aja sih. Haha’
‘Hahaha. Iyaudah, kalo iseng doang mah lanjut sms aja mau?’
‘Gak, gak usah.. Udah dulu deh. Bye’
‘Bye’
Sekarang aku tau, dia benar-benar menangis. Terdengar isakan saat ia berbicara. Rupanya ia benar-benar cemburu. Saat disekolah, ia terlihat sangat tegar, tidak terlihat sedikitpun tanda ia cemburu. Oh, Tuhan..
“Leaaaaaa....!!!”
“Apa, Shaf? Seneng banget keliatannya?”
“Em, gue jadian sama Arya”
“Hah? Ulangi sekali lagi”
“G U E   J A D I A N   S A M A   A R Y A”
“Lo serius?! Bukannya lo suka sama Radit?”
“Cuma kagum, Le. Bukan suka”
“Terus lo waktu itu nangis kenapa?”
“Oh, itu. Itu gara-gara si Arya cerita ke gue, kalo dia mau nembak seseorang.. Ternyata seseorang nya itu gue, Le, gueee..!!”
“Hahaha, selamat yaaa.. Langgeng terus”
“Aamiin aamiin”
“Em, ada yg baru jadian, ya?” Tanya Radit.
“Iyaaa tuh si Shafa”
“Bentar lagi juga ada yg nyusul” Celetuk Shafa.
“Siapa?!” Tanyaku.
“Em, taudeh ~ gue keluar ya”
Jadilah hanya tinggal aku dan Radit didalam kelas. Aku biasa saja, tiba-tiba Radit menghampiriku.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Ucapnya.
“Em, apa?”
“Dari pertama ketemu, aku suka kamu. Dan sebenarnya, aku udah lama kenal Shafa”
“Jangan bilang kalian berdua sekongkol”
“Iyaa, kami memang bersekongkol untuk mengetest, apakah kamu suka sama aku atau enggak” Jelasnya.
“Lalu?” Tanyaku.
“Ya, aku suka kamu. Kamu gak paham?”
“Enggak”
“Huft, tunda aja deh” sepertinya dia frustasi.
“Eh jangan!!” Teriak Shafa dari luar. Aku tertawa.
“Gini, kita jadian, ya?” Ucap Radit.
“Aduh, maaf, Dit.. Aku gak bisa. Aku belum berani dengan itu. Kalau sahabat aja gimana?” Tanyaku.
“Begitu, ya? Kalau mau kamu begitu. Enggak apa apa kok” Jawab Radit.
“Okay, tapi aku janji. Kalau udah saatnya, aku bakal jawab permintaan kamu tadi”
“Baiklah..”
Lalu, semuanya berjalan seperti biasanya, setelah kejadian itu, tidak ada rasa canggung diantara kami. Yang ada, kami semakin dekat. Sebenarnya, aku mau menerimanya, hanya saja aku belum siap menerima resiko sakit hati.



Thanks for reading the story, guys J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar