Sabtu, 22 Maret 2014

Fake Friends

Hi guys, kali ini gue akan membahas apa sih fake friends itu?

Oke, jadi gini. dalam dunia, dimana intimidasi merajalela dan pengkhianatan dan kebohongan adalah hal yang lumrah, seharusnya tidak mengejutkan untuk mengetahui bahwa kita dapat dikelilingi oleh rata-rata anak perempuan, frenemies dan teman-teman bahkan palsu.Teman-teman palsu atau fake friends adalah orang yang palsu yang menggunakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka juga cenderung menggertak dan menjadi bagian dari geng. Demikian juga, teman-teman palsu adalah salah satu dimensi dan hanya peduli tentang diri mereka sendiri. Untuk alasan ini, penting bahwa kita belajar bagaimana membedakan antara teman sejati dan yang palsu. Karena dikaitkan dengan teman palsu sering mengakibatkan ditindas.
Dan inilah daftar karakteristik untuk meninjau, mana teman sejati dan mana teman palsu. Jika teman-teman kalian memiliki karakteristik ini, maka berhati-hatilah. Sebaiknya kalian membuat hubungan pertemanan baru dan tentunya jauh dari istilah fake friends.
1."Teman-teman palsu yang egois."
Biasanya , teman palsu hanya akan memanggil kita ketika mereka ingin atau butuh sesuatu. Jarang, akan mereka sebut karena alasan lain. Pastikan bahwa jika teman tidak menelepon untuk check-in atau hanya untuk chatting, maka orang tersebut tidak benar-benar teman sama sekali.
2."Teman-teman palsu berkembang pada gosip dan drama."
Stres untuk kita bahwa jika seseorang menikmati bergosip tentang orang lain, maka mereka mungkin akan bergosip di belakang punggung mereka juga. Bergosip dan menyebarkan desas-desus memiliki konsekuensi serius dan di dasar agresi relasional dan jenis-jenis bullying. Pastikan kita tahu bahwa kita harus menghindari persahabatan dengan orang-orang yang berkembang pada gosip.
3."Teman-teman palsu mengharuskan kalian untuk berpura-pura."
Ciri dari persahabatan yang sehat adalah bahwa kalian dapat menjadi diri sendiri. Jika kalian merasa seperti mereka harus memakai masker atau tidak dapat otentik, maka itu adalah tanda dari seorang teman palsu. Dengan kata lain, jika kalian harus berbicara atau berpakaian berbeda untuk menyesuaikan diri, maka orang-orang yang bukan teman sejati. Mereka mungkin bagian dari kelompok bukan sekelompok teman . Teman-teman palsu juga resor untuk tekanan teman sebaya, yang sering menyebabkan bullying, ostracizing dan bentuk-bentuk agresi relasional .
4."Teman palsu berbohong." Banyak kali, teman-teman palsu tidak merasa baik tentang siapa mereka sehingga mereka berbohong tentang prestasi mereka, nilai-nilai mereka, pakaian mereka, harta benda mereka - apa saja untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik . Dan jika mereka berbohong tentang diri mereka sendiri, mereka akan berbohong tentang kita juga. Pastikan kalian tahu bahwa jika mereka menangkap seorang teman di beberapa kebohongan, itu mungkin bukan persahabatan yang sehat.
5."Teman-teman palsu sangat penting." Jika teman-teman kita terus-menerus mengkritik kita, sekarang saatnya untuk melihat lebih dekat pada persahabatan. Teman sejati adalah mendukung dan mendorong, tapi teman-teman palsu sering mengkritik. Gadis khususnya bersalah bersikap kritis tentang berat badan atau berat badan intimidasi. Jenis bullying sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan atau perilaku bahkan melukai diri makan.
6."Teman-teman palsu tidak senang ketika Anda berhasil." 
Jika teman-teman kalian memiliki sesuatu yang menghina mengatakan setiap kali waktu kalian berhasil, maka mereka bukan teman nyata. Teman sejati merayakan satu sama lain prestasi.
7."Teman-teman palsu yang tidak dapat dipercaya." 
Biasanya, teman-teman yang baik akan menyimpan satu rahasia orang lain. Dengan kata lain, teman sejati tidak memberitahu dunia yang kita sangat rahasiakan. Misalnya, jika teman-teman kalian selalu menumpahkan kacang, maka saatnya untuk mulai mempertimbangkan bahwa teman adalah pengganggu.
8."Teman-teman palsu jarang memilindungi anda." 
Teman sejati akan membela satu sama lain, terutama ketika dihadapkan dengan bullying. Sementara itu, seorang teman palsu baik akan menjadi pengamat yang tenang untuk bullying atau bahkan dapat mengambil bagian dalam bullying untuk menghindari menjadi korban berikutnya dari bullying. Jika ini adalah kejadian biasa, kalian harus mempertimbangkan baik berbicara dengan teman tentang menjadi pasif atau mulai mencari kelompok lain teman-teman.
Oke, saya rasa cukup tanda-tanda serta penjelasannya. So, lebih hati-hati guys dalam berteman.
Thankyou :)

Rabu, 12 Maret 2014

Cinta yang Abadi

Pagi ini berjalan seperti biasanya. Ia terbangun, mandi, mempersiapkan alat sekolah, berduduk depan meja rias, memandangi dirinya dan turun lalu sarapan bersama papa dan mamanya.
“Valerina, ayo turun..” Teriak Mamanya.
“Iyaa, Ma sebentar” Jawabnya sembari masih terus memoleskan bedak diwajah manisnya.
‘Hem, bedak udah, sekarang tinggal liptint, dan sedikit blush on’ Ucapnya pada dirinya sendiri.
Setiap harinya memang beginilah dia. Valerina Handoko, gadis 16 tahun selalu berangkat kesekolah menggunakan sedikit make up, yg penting wajahnya terlihat segar. Dikamar yg serba pink ini, ia sering memanjakan dirinya. Setelah selesai, ia berkaca.
‘Taraa..! Selesai deh. Keliatannya manis, tapi kenapa Andrian gak pernah dekatin aku, ya?’ Ucapnya saat berkaca.
Ya, Andrian. Sesosok lelaki yg sangat ia dambakan. Tinggi, putih, hidung mancung, menurut Valerina, Andrian adalah sesosok pangeran. Valerina menyukai Andrian sejak mereka memasuki tengah semester ganjil. Entah apa yg membuatnya tiba-tiba tertarik dengan tipe pria seperti itu. Sebelumnya, ia selalu menyukai pria berkacamata. Memang sesuatu yg sulit dijelaskan,
“Pagi mama papa” Ucapnya seraya menuruni anak tangga dirumahnya.
“Pagi, Valerina. Ayo segera sarapan setelah itu kita berangkat. Papa ada meeting pagi ini” Ucap papanya.
“Iyaa, Pa.. Pa, kapan nih aku mau dibelikan mobil?” Tanya Valerina.
“Dengar, walaupun kita memiliki cukup uang, kita gak boleh menghambur-hamburkannya seperti itu.” Ucap mamanya.
“Tapi, ma. Cuma mobil. Lagipula aku gak minta yg mahal-mahal kok” Sahut Valerina.
“Yaudah, nanti kalo usia kamu 17 tahun papa belikan kamu mobil. Tapi ingat prestasi gak boleh menurun” Ucap papa Valerina mengalah.
“Sip, boss!” Valerina semangat.
“Papa ini, anaknya minta apa-apa selalu diturutin, kapan dia mau ngerti cara gunain uang?” Mama Valerina kurang setuju.
“Udahlah, mah. Gak apa-apa.” Sahut papanya.
“Iyaudah, pah, berangkat yuk!” Ucap Valerina.
“Ayo”
“Mah, aku berangkat dulu ya” Ucap Valerina sambil mencium mamanya.
“Iyaa hati-hati ya”
Disekolah, ia langsung disambut oleh teman karibnya. Putri.
“Akhirnya, putri raja datang jugaa...” Celetuk Putri.
“Kok putri raja sih, Put?” Tanyanya heran.
“Ya habisnya, lu lama banget dateng. Pasti inimah kelamaan dandan.” Ucap Putri.
“Nah, tuh lu tau”
“Eh, tapi kayaknya hari ini lo keliatan cakepan deh” Puji Putri.
“Putri, tolong ya, gak usah puji-puji gue. Gue emang dari dulu cakep. Lu nya aja kurang sadar” Valerina membanggakan diri.
“Yeh, pd banget lu. Tapi seriusan, lu hari ini cakepan”
“Ah, gua tau Put. Udah bilang aja lu minta apa. Gak usah muji-muji gini”
“Entar malam, temenin gue ke mall ya?”
“Iyaiya”
Disela pembicaraannya, tiba-tiba Andrian melewati mereka berdua. Kali ini, Andrian memakai jaket biru.
“Ow, pangeran gue. Put, astaga, pangeran gue ganteng banget” Ucap Valerina tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
“Lebay lu. Biasa kali” Ucapnya.
“Gak, demi apapun Andrian ganteng banget pake jaket biru. Seandainya aja gue jadi pacarnya” Valerina mulai berkhayal.
“Alah, lu sih dulu pake jual mahal. Pake bilang depan Andrian kalo lo udah punya pacar lagi. Coba enggak, mungkin kalian udah jadian.” Celetuk Putri.
Valerina langsung teringat pada hari itu. Hari itu, saat sedang uts, Valerina mendapat keberuntungan satu kelas dengan Andrian. Saat jam istirahat, ia langsung mendekati Putri yg duduknya dibelakang Andrian.
“Putri, tadi gue lihat Rafa lagi jalan sama Rizka” Ucap Valerina sedih.
“Hah? Lo serius? Dimana?” Tanya Putri.
“Iyaa gue serius. Pokoknya nyebelin banget. Gue mau putus aja, putus..!” Ucap Valerina.
Andrian yg mendengar percakapan itu langsung menengok kearah Valerina. Valerina hanya memberi tatapan kok-lu-kaget. Setelah itu Andrian langsung keluar kelas.
“Ah pea! Lu tau gak sih? Andrian suka sama lu. Lu pake ngomong gitu lagi” Omel Putri.
“Lu serius dia suka sama gue? Ah, bodo. Itu Rafa gimana?”
“Ah, terserah lah mau lu apain. Itutuh Andrian kasian”
“Heh! Malah bengong! Udah ayok masuk kelas” Tegur Putri memecahkan lamunan Valerina.
“Eh? Em iyadeh”
Saat dikelas, Valerina hanya memperhatikan Andrian. Yang diperhatikan terus mengerjakan tugas. Memang benar, setelah kejadian saat uts, sikap Andrian lebih sedikit menjauh. Dulu Valerina sedang memiliki hubungan dengan Rafa, makanya ia tidak terlalu memikirkan Andrian.
“Ayo, kumpulkan tugasnya sekarang” Ucap guru Matematika itu.
“WHAT?!! Mati gue!! Gue belum selesai!” Valerina berteriak heboh.
Satu kelas langsung memandang kearahnya. Yang dipandang salah tingkah.
“Kamu kenapa Valerina?” Tanya Pak Hanggono.
“Ah, tugas saya belum selesai, pak”
“Daritadi kamu ngapain aja?” Ucap Pak Hanggono meninggi.
“Ya, mikirlah. Liat aja soalnya susah kayak gini. Gak kira-kira sih bikin soalnya” Celetuk Valerina.
“Apa kamu bilang? Siapa suruh kamu gak belajar? Terus daritadi selama saya nerangin, kamu ngapain aja? Keluar kamu sekarang! Gak usah ikut pelajaran saya!” Pak Hanggono mencerocos.
“Iyaa. Bawel maksimal” Ucap Valerina.
“Ngomong apalagi kamu?!” Tanya Pak Hanggono.
“Gak ngomong apa-apa tuh” Jawab Valerina cuek lalu ia langsung keluar kelas.
Diluar, ia berjalan kearah taman. Taman dibelakang sekolah adalah taman favoritnya. Biasanya ia menghabiskan waktu istirahat disana. Diperjalanan, ia menendang sebuah kaleng minuman.
“Aduh!” Pekik seseorang.
“Waduh, kayaknya kena orang deh. Ah, kabur ajalah” Bisik Valerina pada dirinya sendiri.
“Heh! Jangan kabur lo!” Teriak seseorang itu.
Lalu orang itu mengejar Valerina. Valerina-pun lari sekencang-kencangnya. Hingga diujung taman ia berhenti karena tangannya ditangkap oleh orang itu.
“Ih! Lepasin! Lo siapa sih? Gue gak kenal” Ucap Valerina dengan muka tak berdosa.
“Eh, pake tampang pea! Itu ngapain lo lempar-lempar kaleng ke gue? Salah gue apa coba?” Sahutnya.
“Gue gak sengaja tau!”
“Iyaudah, sini ikut gue” Ucap orang itu sambil menarik tangan Valerina.
“Gak usah pegang-pegang! Sksd banget sih. Ew” Ucap Valerina.
“Ini anak, dibaikin malah kayak gini. Iyaudah serah lu!” Ucap orang itu sambil melepas tangan Valerina dan pergi.
“Eh, Jordan tunggu!” Teriak Valerina.
Yang dipanggil langsung menghentikan langkahnya. Ia langsung berbalik badan dan memandang Valerina penasaran.
“Lu tau darimana nama gue Jordan?” Tanya orang itu.
“Itu, dari baju lo” Jawab Valerina sambil menunjuk baju seragam yg Jordan pakai.
“Wah, diem-diem merhatiin gue ya. Lu suka ya sama gue?!” Ucap Jordan dengan tampang meledek.
“Eh, yaampun pd banget lu. Najong” Valerina salah tingkah.
“Hahaha, yaudah jadi gak ikut gue?”
“Iya jadi”
Lalu duduklah mereka berdua ditaman. Dibangku panjang berwarna hijau.
“Mau ngomong apa?” Tanya Valerina.
“Kita perkenalan dulu. Gue Jordan, lu siapa?”
“Em, gue Valerina”
“Nama lu sok cakep” Celetuk Jordan.
“Ih, emang gue cakep” Valerina tersenyum sok manis.
“Ih. Yaudah serah lu. Lu kelas berapa?”
“Kelas sepuluh satu. Lu?”
“Gue kelas sebelas lima. Gue kakak kelas lo. Jangan songong makanya”
“Bawel”
“Lu tadi kenapa nendang-nendang tuh kaleng? Nih liat kepala gue memar”
“Hah? Lo serius? Coba liat” Valerina beranjak dari tempat duduknya.
“Yakan memar? Kerjaan lo nih”
“Yah, maaf deh”
“Iya gak apa-apa. Ceritain ke gue, kenapa lu kayak gitu?”
“Jadi tadi ceritanya tuh gue lagi liatin doi gue, pas banget tuh lagi pelajarannya Pak Hanggono. Terusnya dikasih tugas, tiba-tiba disuruh dikumpulin. Padahal satupun gue belum. Akhirnya gue disuruh keluar deh” Jawab Valerina panjang lebar.
“Makanya, dengerin ya, suka atau cinta sama seseorang boleh. Ngeliatin juga boleh. Tapi kalo lagi belajar ya belajar dong” Nasihat Jordan.
“Iya iya. Tapikan secara gitu”
“Secara apalagi coba? Emang lu suka sama siapa sih?” Tanya Jordan.
“Sama Andrian”
“Oh, dia”
“Lu tau?”
“Taulah, adek kelas gue tuh di sd”
“Hah serius lu? Hahaha. Jangan bacot ya”
“Iya”
Bel istirahatpun berbunyi. Otomatis semua menuju kantin. Lalu saat Valerina sedang berbincang-bincang dengan Jordan, Andrian menghampiri Valerina.
“Rin, gue mau ngomong” Ucap Andrian menarik tangan Valerina sembari melirik sinis kearah Jordan.
“I.. Iya” Jawab Valerina.
Andrian menarik Valerina jauh-jauh dari Jordan.
“Rin denger ya, gue gak suka lo deket-deket sama Jordan” Ucap Andrian.
“Loh? Kenapa?” Tanya Valerina heran.
“Lo gak tau sifat aslinya Jordan, Rin”
“Aduh gue makin gak ngerti Andrian. Kenapa?”
“Denger, Jordan itu seneng banget sama yg namanya mainin perempuan. Udah banyak korban dia. Dan gue gak mau lo jadi salah satu korbannya Jordan”
“Nah terus apa urusannya sama lu? Kalo gue jadi korbannya Jordan, kenapa lu yg ribet?”
“Aduh, Na. Gue tuh sayang sama lu. Gue gak mau lu sakit hati” Andrian keceplosan.
“Apa lu bilang? Gue gak salah denger?”
“Engga, Na.. Gue sayang lo, banget. Tapi lo gak pernah ngerti”
“Gimana gue mau ngerti sih? Lo aja tuh dingin sama gue, cuek”
“Iyaudah, gue minta maaf. Tapi, lo mau gak jadi pacar gue? Maaf kalo gue lancang” Ucap Andrian.
“Eh? Em, jawabannya pulang sekolah ya” Ucap Valerina.
Valerina langsung berbalik dan menghampiri Jordan.
“Jordan, sorry ya gue kekelas dulu”
“Iyaa gak apa-apa. Kalo mau cerita lagi, cari gue aja”
“Iyaa”
Valerina langsung berlari menuju kelas dan meninggalkan Andrian bersama Jordan. Sebenarnya, Valerina tidak marah atas ucapan Andrian. Yang ada, Valerina sangat senang. Sehingga dia seperti ini.
“Ngomong apa lo sama Valerina?” Tanya Jordan.
“Bukan urusan lu”
“Valerina urusan gue”
“Emang lo siapanya dia?!” Andrian mulai terpancing emosi.
“Gue udh pegang rahasianya dia”
“Oh Cuma itu? Sayangnya bentar lagi dia jadi pacar gue”
“Gak usah banyak laga deh. Gue tunggu lo di Jalan Anggrek 4 jam sembilan malam” Ucap Jordan.
“Mau ngapain? Balapan? Gue bawa motor atau mobil?”
“Mobil. Gue tunggu” Ucap Jordan sambil berlalu.
Dikelas, Valerina langsung menghampiri Putri.
“Put gimana nih?” Ucap Valerina panik.
“Gimana apanya sih?”
“Aduh ituloh. Aahh, lo mah gak ngerti sih!”
“Ya gimana gue mau ngerti Valerina? Lu gak ngomong apa-apa sama gue” Putri semakin tidak mengerti.
Tak terasa bel pulang berbunyi.
“Astaga udah bel pulang. Yaampun, Put gue harus gimana?!” Tanya Valerina semakin panik.
“Serah lu ah, gue gak ngerti” Jawab Putri.
Lalu, Andrian menghampiri Valerina.
“Na, gimana? Mau atau gak?” Tanya Andrian.
“Enggak! Eh, bukan-bukan. Maksud gue, gue mau. Eh, enggak. Eh iya gue ma.. Argh” Jawab Valerina salah tingkah.
“Lu tenang dulu. Mau, atau enggak?” Tanya Andrian sekali lagi.
“Gue mau” Jawab Valerina
“Okay, makasih. Love you. Aku balik duluan ya” Ucap Andrian.
“Me too. Hati-hati ya” Jawab Valerina.
“KALIAN JADIAN?!! ASTAGA AKHIRNYA PENANTIAN TEMEN GUE BERAKHIR JUGAA!!”
“Haha lu apaan sih”
“Ciee”
“Udah ah, gue mau pulang. Bye”
“Okaayyy”
Dimobil, Valerina tersenyum tak ada hentinya. Ia sangat bahagia. Sesuatu yg tidak pernah ia bayangkan.
“Kamu kenapa sih, Na? Senyum terus”
“Ah, gak apa-apa kok, pah”
Dirumah ia langsung masuk kamar dan menghempaskan dirinya dikasur. Ia melirik kearah buku diary nya. Diambilnya buku berwarna pink itu dimeja berwarna pink sebelah kasurnya. Ia buka selembar demi selembar buku diary itu. Isinya rata-rata menceritakan dirinya dan Andrian. Diraihnya pulpen dimeja itu. Dan mulai ditulisnya.

                                                                                                            21 Maret 2014
Dear diary,
Sesuatu yang gak pernah aku bayangkan. Hal yang seperti mimpi tapi benar terjadi. Aku gak pernah nyangka sampai sejauh ini. Ternyata, kami bisa bersatu. Kami, aku dan Andrian. Sore tadi dia yg menyatakannya kepadaku. Munafik kalau aku bilang aku gak senang. Walaupun sempat kaget, inilah kenyataannya. Semoga aja, aku dan dia bisa lama. Bisa lanjut terus dan erat terus. Aamiin.

Ditutupnya diary itu. Lalu ia memejamkan mata dan tertidur. Saat pukul sepuluh malam, handphone nya berdering. Dilihatnya, ternyata panggilan masuk dari Jennie, teman sekelasnya.
“Hallo, Na”
“Hallo, Jen. Ada apa nih?”
“Em sorry ganggu malem-malem. Lu bisa keluar rumah gak? Ada yg harus gue kasih tau. Sekarang gue didepan rumah lu”
“Oh, gitu? Bisa kok bisa, tunggu ya”
“Iyaa”
Valerina bergegas keluar rumah. Benar saja, didepan gerbangnya sudah ada mobil Jennie. Valerina masuk kemobil itu.
“Hai, Na”
“Hai. Ada apa sih?”
“Udah entar juga tau kok”
Jennie menjalankan mobilnya. Ditengah perjalanan mereka berbincang-bincang.
“Lo udah jadian sama Andrian kan?”
“Udah, tadi sore”
“Tadi sore? Yaampun, baru bentar udah kayak gini”
“Kayak gini apa, Jen?” Valerina penasaran.
“Eh? Gak kok. Hehe”
“Loh inikan Jalan Anggrek, ngapain kesini? Kan banyak yg balapan. Ngeri”
“Kalo lu gak dateng lu nyesel”
“Kok gitu?”
Jennie hanya diam. Sesampainya di Jalan Anggrek 4, ia melihat keramaian. Ada kobaran api disana.
“Itu rumah kebakar?!” Valerina terkejut.
“Bukan, bukan rumah. Itu mobil. Mobil Andrian”
“Jen? Apa lu bilang? Andrian?”
“Iya, pacar lo”
“Astaga! Terus Andrian sekarang dimana, Jen? Dimana?”
“Didalem mobil itu, Na”
“Astaga, Jen? Lu gak bohong kan? Jennie? Kenapa gak ditolong?” Valerina langsung berlari kearah mobil itu.
“Naa..!!” Jennie mengejar Valerina.
“Astaga, Jen. Andrian.. Ya Tuhan”
“Na, lu yg sabar ya” Jennie memeluk Valerina.
“Jen gue sayang dia, Jen. Gue gak mau kehilangan dia. Please bilang sama gue ini mimpi Jen. Please” Valerina menangis.
“Enggak, Na.. Ini kenyataan. Gue tau kok gimana sakitnya. Lu yg sabar aja ya. Berdoa yg terbaik buat Andrian. Semoga Andrian diterima disisi Tuhan” Ucap Jennie.
“Enggak, Jen. Andrian masih hidup. Dia masih hidup. Gue yakin bentar lagi juga dia keluar dari mobil itu” Valerina tidak percaya.
“Na, inilah kenyataannya. Lu harus terima, Na”
“Enggak, Jen!!”
Valerina berlari sekencang-kencangnya. Lalu tiba-tiba ada mobil yg melintas. Lalu Valerina merasakan sesuatu yg nyaman. Dan semuanya gelap.

Valerina bertemu dengan Andrian lagi. Ditempat yg indah. Dikehidupan yg abadi. Cinta mereka pun abadi.