Sabtu, 22 Februari 2014

Belum Saatnya

   
   Pagi ini cuacanya agak mendung, jadi mau gak mau ya aku harus berjalan lebih cepat. Kota Bandung memang memiliki cuaca seperti ini, tapi ini berbeda, nampaknya beberapa belas menit lagi akan turun hujan. Jarak dari rumah kesekolah cuma beberapa puluh meter aja, jadi ya aku lebih milih untuk berjalan kaki. Selain udara yg sejuk, bisa melancarkan peredaran darah juga kan. Akhirnya, sampailah aku disini, didepan gerbang sekolah. Aku sekarang duduk dibangku kelas 8 SMP. Aku langsung bergegas menuju kelas.
'Bruk!'
Ah sial! Siapa yg menabrakku?
"Em, maaf, maaf. Saya gak sengaja" Ucapnya sembari membereskan bukuku yg jatuh.
"Iya udah gak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati" Jawabku ketus.
"Iya iya, saya benar-benar gak sengaja" Pintanya sekali lagi.
"Iyaa gak apa-apa"
Kulihat wajahnya, hem, orang asing rupanya. Sepertinya, anak baru. Terlihat dari gayanya yg memakai putih-biru dan memakai jaket biru. Padahal seharusnya ia memakai batik.
"Anak baru, ya?" Aku mencoba bertanya.
"Hem, iyaa, kenalin saya Radit" Sahutnya seraya mengenalkan diri.
"Gue Lea, anak 81. Lu kelas berapa?"
"Hem, lo beneran kelas 81?" Tanyanya.
"Iya, kenapa?" Tanyaku balik.
"Tadi, gue abis keruang kepsek, terus katanya gue ditempatkan dikelas 81 juga.." Jelas Radit.
"Oh, gitu. Iya udah, gue ke kelas dulu ya" Aku bergegas.
"Hey, tunggu.. Bareng ya?"
"Iyaaa"
  Sesampainya dikelas, aku langsung menyuruh Radit duduk sebangku dengan Rafa. Kalau dilihat-lihat, Rafa dengan Radit sangat berbeda. Rafa dengan kacamatanya dan rambut yg disisir rapi ala anak kutu buku, sedangkan Radit dengan rambut yg dimodelkan dan jaket birunya yg membuat dia semakin terlihat keren. Ku akui, ia memang lumayan keren.
"Duh, pagi-pagi udah ama yg bening-bening aja nih. Siapa sih itu Le?" Celetuk Shafa.
"Anak baru. Kenapa?"
"Keren banget ya ampun" Ucap Shafa kagum.
"Biasa aja ah." Sahutku.
"Ih, keren tau. Lu gak suka apa sama dia?"
"Biasa aja."
Lalu, guru ipa masuk kelas. Aku langsung menghampiri.
"Ibu, ada anak baru. Disuruh perkenalkan diri aja dulu, ya, bu?"
"Yang mana? Coba kamu panggil sini" Ibu Rani celingukan
"Iyaa, bu"
Aku menghampiri mejanya. Dia menatapku seakan-akan ingin melahapku.
"Biasa aja dong liatnya. Lo disuruh kedepan tuh" Ucapku ketus.
"Iya, ini udah biasa. Malah paling biasa" Jawabnya.
"Apanya yg biasa? Udah sono kedepan buru"
"Iya"
  Lalu dia berjalan kedepan.
"Yaampun, jalannya aja keren banget" Ucap Shafa dengan kagumnya.
"Alah, lebay banget sih lu. Kasih tau gue, bagian mananya yg keren?" Ucapku.
"Semuanya!" Jawabnya semangat.
"Halah"
"Perkenalkan nama saya Muhammad Raditya. Saya siswa pindahan dari Bogor" Ucapnya didepan kelas
"Namanya aja keren banget. Em, gue jatuh cinta pada pandangan pertama" Ucap Shafa tanpa mengedipkan mata ke arah Radit.
"Pret!" Jawabku.
"Ada yg mau ditanyakan?" Tanya Bu Rani.
"Saya mau nanya, bu!" Shafa mengangkat tangan.
"Iya, silahkan Shafa" Ucap Bu Rani.
"Nomor pin bb berapa?" Tanya Shafa. Sontak satu kelas tertawa.
“Udah, gak usah dikasih gak apa-apa” Celetukku. Kalau dipikir kan kasian juga Shafa, saking sukanya sampe kayak begini kelakuannya.
“Hahahaha, iyaudah.. Ada pertanyaan lagi?” Tanya Bu Rani.
Sekelas diam, sepertinya tidak ada.
“Iyasudah, kalau tidak ada, kita lanjutkan pelajarannya ya. Radit, terima kasih. Kamu boleh duduk kembali” Ucap Bu Rani.
“Iyaa, bu. Terima kasih”
“Iyaa”
Radit kembali duduk. Saat pelajaran berlangsung, aku merasa ada yg memperhatikan aku. Kulihat Shafa, dia sedang serius kepada pelajaran. Lalu kutengok Radit.. Ya, dia sedang melihatku. Dia langsung mengalihkan pandangan setelah aku memergoki dia sedang memperhatikanku. Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi.
“Lea, kantin, yuk?” Ajak Shafa.
“Em, lo duluan aja. Gue lagi nanggung nih. Dikit lagi” Sahutku masih mengerjakan tugas.
“Yah, iyaudah deh. Mau nitip gak?”
“Boleh, roti aja satu ya. Yang rasa keju”
“Okay,”
Kulihat Radit juga masih terpaku dengan tugasnya. Tidak terlalu memperdulikannya, aku kembali konsentrasi ke tugasku.
“Lea..” Panggil Radit. Ya, sepertinya Radit. Karena hanya ada dia dan aku dikelas.
“Iyaa?” Sahutku tanpa menoleh sedikitpun.
“Em, kantin dimana, ya?”
“Oh, itu. Dari sini, lurus aja sampe ujung, terus belok kanan dan kekiri dikit.”
“Oh, gitu. Lu udah selesai belum?”
“Em, dikit lagi” Jawabku masih terus menulis.
“Oh..” Jawabnya.
“Yap, udah selesai nih. Kenapa?” Tanyaku.
“Kekantin bareng, yuk?” Tawarnya.
“Okay”
Kamipun berjalan menuju kantin. Kulihat dari gerak-geriknya, nampaknya ia canggung. Ternyata, cowok cool kalo lagi canggung tuh lucu ya..
“Kenapa pindah kesini?” Tanyaku mencairkan suasana.
“Eh? Em, Mama dipindahkan kerja kesini.” Jawabnya.
“Oh, berarti disini lo sama mama lo aja?”
“Iyaa”
Dari tadi kami jalan, sepertinya banyak perempuan yang memperhatikan. Tapi sepertinya bukan memperhatikan kami, tapi hanya Radit. Aku tidak. Sampai akhirnya, Fera, anak yg terkenal satu sekolah menghampiri kami.
“Hai, anak baru, ya?” Sapanya kepada Radit.
“Iyaa”
“Pindahan dari mana?”
“Bogor”
“Oh iya, nama lo siapa?” Fera mulai menjalankan aksinya.
“Em, Radit, gue duluan ya. Bye” Ucapku.
“Oh, jadi nama lo Radit?”
“Iya. Eh gue kekantin dulu ya.” Ucap Radit lalu sedikit berlari mengejarku.
“Lea, tunggu” Teriaknya. Aku langsung berhenti dan menoleh.
“Ayo, cepet” Sahutku. Dia langsung menghampiriku.
“Yang tadi itu siapa sih?” Tanyanya.
“Oh, itu.. Dia Fera. Paling famous satu sekolah” Jawabku.
“Oh, gitu”
“Iya, kenapa? Lu suka, ya?”
“Ih, enggaklah. Sok tau banget lu”
“Dia tadi udah mau modusin lo tuh” Ucapku. Jengkel juga sih rasanya.
“Ah, udahlah.. Gak usah dibahas lagi” Jawabnya.
Dikantin, kami memesan dua nasi goreng special dan dua gelas jus alpukat. Aku lihat dia, cara makannya, cara minumnya, ah dia terlihat berbeda. Aku merasa ada suatu getaran dihatiku, sepertinya, aku mulai.... ah tidak.
“Eh, kok ngelamun?” Tegurnya mengagetkanku.
“Eh? Em, enggak tuh.”
“Udah cepet abisin. Abis itu temenin gue jalan-jalan. Anterin gue kesetiap sudut sekolah” Pintanya. Eh, bukan, bukan meminta. Tapi mengultimatum. Huh.
“Enak aja. Emang lu siapa nyuruh-nyuruh gue begitu?” Jawabku ketus.
“Lo ketua kelas, lo orang pertama yg gue kenal, lo orang yg gue traktir dan lo orang pertama yg deket sama gue”
“Eh, tunggu-tunggu. Traktir? Kapan lo traktir gue?”
“Sekarang, gue bakal traktir lo”
“Serius? Okelah, gue terima. Hahaha”
Setelah makan, aku langsung menemani Radit dan mengenalkan setiap bagian sekolah ini ke Radit. Terkadang, dia meledekku. Atau malah aku yg meledeknya. Kami tertawa bersama. Padahal baru hari pertama kenal, tapi rasanya seperti sudah lama kenal. Lalu, kami kembali kekelas. Sampai dikelas, kami melihat Shafa sedang cemberut.
“Lo kenapa, Shaf?” Tanyaku.
“Gak, kok. Gak apa-apa.” Jawabnya.
“Apanya yg gak apa-apa? Tuh muka lo kusut banget.”
“Enggak, gue gak apa-apa. Udah, nih tadi lo pesen roti. Nih rotinya”
“Astaga! Gue sampe lupa. Aduh, sorry banget ya, Shaf.. Sorry banget”
“Iyaa udah gak apa apa”
Saat pelajaran berlangsung, aku baru sadar. Ternyata penyebab kecemberutan Shafa adalah karena dia cemburu. Ya, tepat sekali. Dia cemburu. Aku baru sadar, Shafa menyukai Radit.
“Shaf?”
“Yaa?”
“Lo tadi cemburu, ya? Maaf ya, gue gak maksud apa-apa kok”
“Cemburu? Ya enggak lah, Le. Gue malah seneng lo deket sama Radit”
“Ih, maksud lo apa sih? Gue gak suka kok sama Radit. I swear.”
“Em, udah, gak usah dibahas lagi. Gue gak bakal marah sama lo. Okay?”
“Bener, ya? Okaaayyy.”
Sepulang sekolah, saat aku berjalan. Aku melihat Shafa sedang mengusap matanya. Rumahnya dari sekolah agak jauh, jadi ia dijemput menggunakan mobil. Aku bertanya-tanya, kenapa Shafa mengusap air matanya? Apakah dia menangis? Menangis kenapa? Aku langsung buru-buru jalan ke rumah. Dua jam sampai dirumah, aku langsung menelepon Shafa. Dia mengangkat teleponku.
‘Halo, Shaf?’
‘Halo?’
‘Shaf? Lo gak apa-apakan?’
‘Hah? Enggak, gue gak apa-apa. Lo nelepon ada apa, ya?’
‘Em, Cuma iseng aja sih. Haha’
‘Hahaha. Iyaudah, kalo iseng doang mah lanjut sms aja mau?’
‘Gak, gak usah.. Udah dulu deh. Bye’
‘Bye’
Sekarang aku tau, dia benar-benar menangis. Terdengar isakan saat ia berbicara. Rupanya ia benar-benar cemburu. Saat disekolah, ia terlihat sangat tegar, tidak terlihat sedikitpun tanda ia cemburu. Oh, Tuhan..
“Leaaaaaa....!!!”
“Apa, Shaf? Seneng banget keliatannya?”
“Em, gue jadian sama Arya”
“Hah? Ulangi sekali lagi”
“G U E   J A D I A N   S A M A   A R Y A”
“Lo serius?! Bukannya lo suka sama Radit?”
“Cuma kagum, Le. Bukan suka”
“Terus lo waktu itu nangis kenapa?”
“Oh, itu. Itu gara-gara si Arya cerita ke gue, kalo dia mau nembak seseorang.. Ternyata seseorang nya itu gue, Le, gueee..!!”
“Hahaha, selamat yaaa.. Langgeng terus”
“Aamiin aamiin”
“Em, ada yg baru jadian, ya?” Tanya Radit.
“Iyaaa tuh si Shafa”
“Bentar lagi juga ada yg nyusul” Celetuk Shafa.
“Siapa?!” Tanyaku.
“Em, taudeh ~ gue keluar ya”
Jadilah hanya tinggal aku dan Radit didalam kelas. Aku biasa saja, tiba-tiba Radit menghampiriku.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Ucapnya.
“Em, apa?”
“Dari pertama ketemu, aku suka kamu. Dan sebenarnya, aku udah lama kenal Shafa”
“Jangan bilang kalian berdua sekongkol”
“Iyaa, kami memang bersekongkol untuk mengetest, apakah kamu suka sama aku atau enggak” Jelasnya.
“Lalu?” Tanyaku.
“Ya, aku suka kamu. Kamu gak paham?”
“Enggak”
“Huft, tunda aja deh” sepertinya dia frustasi.
“Eh jangan!!” Teriak Shafa dari luar. Aku tertawa.
“Gini, kita jadian, ya?” Ucap Radit.
“Aduh, maaf, Dit.. Aku gak bisa. Aku belum berani dengan itu. Kalau sahabat aja gimana?” Tanyaku.
“Begitu, ya? Kalau mau kamu begitu. Enggak apa apa kok” Jawab Radit.
“Okay, tapi aku janji. Kalau udah saatnya, aku bakal jawab permintaan kamu tadi”
“Baiklah..”
Lalu, semuanya berjalan seperti biasanya, setelah kejadian itu, tidak ada rasa canggung diantara kami. Yang ada, kami semakin dekat. Sebenarnya, aku mau menerimanya, hanya saja aku belum siap menerima resiko sakit hati.



Thanks for reading the story, guys J

Jumat, 21 Februari 2014

Cinta Dalam Persahabatan

*taman sekolah*
“Vanda”
“Yup?”
“Gue suka sama lu”
“Hah? Lu ngomong apaan?”
“Eh, enggak, itu tadi ada putri malu”
“Ohya? Dimana putri malunya?”
“Hem, udah pergi”
“Putri malu bisa jalan?”
“Hahahah, gue bercanda”
“Hahahahaha. Garing bercanda lo. Ke kantin yuk ah”
“Em, ayo”

Itulah kami. Kami bersahabat sejak kelas 1 smp, hingga sekarang kami sudah kelas 3 smp. Setiap orang yg lihat kami, mereka pasti mengira kalau kita pacaran. Padahal sih enggak. Sebenarnya, aku maunya kita bener-bener jadian. Tapi sampai sekarang, Raka belum ngomong apa-apa. Yah, iyaudah lah, udah deket kayak gini aja udah seneng banget kok.

“Raka! Happy Birthday! Hihihi” ucapku mengejutkannya.
“Ih, lo inget, Van?” Aku dapat melihat bahwa dia salah tingkah.
“Iyadong” Ucapku sambil nyengir lebar
“Em, gue tau, pasti mau minta traktiran..”
“Iyaa, kok pinter sih? Hahaha”
“Gak ada ah, Van. Gak ada traktir-traktiran. Gak ada duit gue..”
“Yah elu. Mie ayam aja gak apa apa deh”
“Beneran gak ada, Van.. Kalo ada juga gue kasih”
“Yah, iyaudah deh”
“Eh, jangan cemberut gitu dong”
“Enggak kok, siapa yg cemberut juga”
“Nah itu apa namanya kalo bukan cemberut? Iyaudah deh, besok gue traktir ya. Kalo sekarang gue gak bawa duit”
“Udah gak usah”
“Beneran gak mau?”
“Iya, gak usah ditawarin lagi. Gue pasti mau. Hahahaha”
“Alah, pake malu-malu monyet”
“Hahaha. Lu beneran gak bawa duit?”
“Bawa sih, cuma lima puluh ribu.. Gak cukup buat lu ama gue”
“Ih, cukup, Ka.. Mie ayam doang masa gak cukup sih”
“Masa mie ayam terus sih, Van? Lu gak bosan apa?”
“Yaa, bosan lah”
“Makanyaa...”
Ngobrol atau bercanda sama Raka emang beda, kayaknya lebih ada something special gitu. Tapi sayangnya aku gak pernah tau perasaan dia ke aku. Seandainya aku jadi dia, mungkin udh aku ungakpin perasaan ini dari dulu.
“Persahabatan kalo diubah jadi cinta, gak bakal enak, Van. Kalo kalian putus, pasti bakal jauh-jauhan deh..” Maudy mulai mengeluarkan wejangannya
“Tapi gue sayang banget sama Raka, Dy”
“Iya, gue ngerti. Persahabatan juga kan berarti rasa sayang.. Coba deh, kalo lo minta sesuatu ke Raka, dikasih gak?”
“Biasanya dikasih, tapi nggak langsung”
“Nggak langsung gimana, Van?”
“Iya, misalnya gue minta ditemenin ke toko buku hari ini, tapi baru ditemenin besok”
“Tapi selalu diturutinkan?”
“Iyaa”
“Nah, berarti dia juga sayang lo. Mungkin nih ya, mungkin aja dia tuh gakmau kalo persahabatan kalian rusak gara gara emosi sesaat”
“Gitu ya, tapi gue maunya kita pacaran”
Tiba-tiba Maudy terkejut. Aku bingung.
“DOR! Mau jadian sama siapa sih? Kok gak cerita-cerita sama gue?” Ucap Raka. Aku terkejut karena tiba-tiba ada dia dibelakangku. Aku takut dia mendengar semuanya.
“Gak kok, siapa yg mau jadian” Ucapku berusaha stay cool.
“Alah, spik mulu lo! Mau jadian sama gue ya, secara gue kan ganteng..” Ucap Raka. Jantungku berdebar, hampir terkena serangan jantung.
“Aih, ge-er banget lu. Eh, makan apa tuh? Bagi dong...”
“Celamitan banget sih. Nih”
“Haha, makasih Raka yg ganteng tapi gue boong”
“Ih, sama sama Vanda yang mirip nabilah tapi malah naudzubillah”
“Raka, dalem banget sih omongannya kayak sumur. Nyesek gue”
“Yah, maaf deh tuan putri”
“Bodo ah!” Aku langsung pergi.

Sebenarnya, aku gak benaran marah. Cuma mau tau aja, reaksi dia kayak gimana kalo aku ngambek.
“Vanda, lo marah ya? Maaf..” Ucapnya sok sok melas.
Hahaha, dia gak tau aja, padahal aku tertawa keras didalam hati. Hahaha maaf ya Raka, aku kerjain.
“Au. Yakali gue marah”
“Ah elu mah, padahal ntar malem mau gue ajak jalan”
“Serius, Ka? Ayo, kemana?”
“Aih, langsung semangat. Bisanya lu ya kayak gitu. Denger diajak jalan langsung gak marah. Gak jadi ah, males.”
“Ih, Raka? Kok jadi lu yang ngambek? Tadikan gue? Ah yaudah, gue ngambek!”
“Iyaudah ngambek aja”
“Rakaaaa....!”
“Bercanda-bercanda, iya ntar malam kita jalan”
“Yeayyy! Pokoknya, ntar malam lu traktir gue makan pizza”
“Ntar gendut lu”
“Bodo! Ohya, ntar malam juga lu harus beliin gue baju yg lucu-lucu, beliin gue novel romantis, beliin gue.....” tiba-tiba roti mendarat dimulutku.
“Bawel, makan nih roti”
“RAKAAAAAA..........!!!”
Bel pulang berbunyi, seperti biasa,  aku diantar pulang sama Raka. Jalan kaki. Ya, aku lebih senang jalan kaki daripada harus naik kendaraan. Seperti biasa pula, sembari jalan Raka menggandeng tanganku. Pemandangan yang biasa.
“Udah, jadian aja deh lu berdua” Ucap Nico.
“Apaansih, Co? Cuma sahabat kok” Aku mengelak.
“Tau lu, apaan sih” Elak Raka.
“Hahahah. Awas lu berdua sampai jadian. Pajak gak mau tau”
“Iya bawel lu, doain aja sih” Ucap Raka. Aku sangat terkejut.
“Tuhkan benar.. Hahahaha” Nico lari
“Ka?”
“Apa?”
“Em, enggak kok gak apa apa”
“Ohya, ntar malem, gue jemput lo jam 7 ya. Gak mau tau, pokoknya jam 7 udah harus rapih. Kalo nggak, gak jadi jalan.” Raka mengultimatum
“Iyaa bawel, gak mau tau juga, lu harus traktir gue makan, beliin baju dan novel.”
“Banyak permintaan”
“Bodo”
Aku sampai rumah, dirumah, aku kelimpungan gak jelas. Aku bingung harus pakai baju apa. Rasanya aku ingin tampil sempurna didepan Raka. Padahal, kita udah sering banget jalan. Tapi gak tau, aku ngerasa malam ini berbeda.
“Nyari apa sih, kak? Repot banget deh”
“Eh, mendingan lu bantuin gue cari baju yg pas buat ntar malam”
“Emang ntar malam mau kemana lu?”
“Mau jalan sama Raka. Udah buru bantuin, jangan bawel terus”
“MAMAAA.... KAK VANDA MAU JALAN SAMA KAK RAKAAAA....!!!!!” Tiba tiba Acha berteriak.
“Lu apaan sih bawel banget. Gue suruh bantuin, bukan ngadu. Biar aja, gak gue bawain makanan!” Ancamku, hihihi.
“Ada apa sih anak mama ribut gini?”
“Kak Vanda mau jalan sama Kak Raka, terus masa dia ngancam katanya aku gak dibawain makanan” Acha mengadu. Aduh, nih anak maunya apa coba.
“Iyaudah, Cha. Gak apa apa. Ntar malam kita juga pergi ya” Mama menenangkan Acha
“Sukurin wlee, gue juga mau pergi” Acha mengejekku
“Lah bodo. Mama bantuin aku deh cariin baju yang cocok buat nanti malem.” Pintaku pada mama
“Emang mau kemana? Restoran? Mall? Atau bioskop? Biar mama pasin bajunya”
“Em, ke mall.. Ya, ke mall”
“Iyaudah nih, pake ini aja” mama mengeluarkan blue jeans, tank top hitam dan blazer putih.
“Serius nih mah pake ini?”
“Iyalah, udah cepet. Masa mau pake gaun sih?”
“Hehe iya juga ya”
Akupun berganti pakaian. Mengikuti saran mama tadi. Setelah itu, aku sedikit berdandan. Natural aja, Cuma pakai blush on pink, eye shadow pink, lips stick pink dan maskara. Lalu rambut sedikit ku curly. Setelah kulihat jam, ternyata sudah jam tujuh kurang lima belas. Ya, lima belas menit lagi.
Kulihat jam, ternyata sudah jam tujuh lewat sepuluh menit. Belum ada tanda-tanda Raka datang. Aku bolak-balik, lalu saat jam setengah delapan, bel berbunyi. Pasti Raka! Akan kumaki dia. Aku buka pintu.
“Raka! Lo itu kemana ajasih baru datang jam segini? Lu janji kan....” Aku terperangah. Ternyata bukan Raka, itu polisi. Ya, itu polisi!
“Selamat malam” Ucap polisi itu.
“Iya, selamat malam. Ada yg bisa saya bantu, Pak?”
“Apa benar ini kediaman Vanda Handoko?”
“Iya, benar. Saya Vanda. Ada apa ya, Pak?
“Jadi begini, telah terjadi kecelakaan antara mobil sedan dengan truk. Setelah diselidiki, kami melihat panggilan terakhir dihandphone pengendara mobil sedan ini adalah nomor saudari. Maka dari itu kami kesini.”
“Ke.. Kecelakaan? Ma.. Maksud bapak, Raka? Raka kecelakaan?” Aku terkejut. Hampir menangis. Air mata sudah berkumpul dipelupuk mataku dan mengalir. Tidak, bukan hampir menangis. Aku sudah benar-benar menangis. Raka, kenapa bisa?
“Iya, sekarang, korban sedang menuju kerumah sakit”
Tanpa basa-basi aku langsung menyambar tas dan pergi bersama polisi itu. Diperjalanan, aku terus mencoba menghubungi keluarga Raka. Untung saja, aku masih menyimpan nomor mama Raka, langsung saja kutelepon.
‘Assalamualaikum’
‘Waalaikumsalam’
‘Ibu, ini saya, Vanda. Teman Raka. Em, ibu bisa datang kerumah sakit sekarang juga?’
‘Kerumah sakit? Untuk apa ya, nak?’
‘Begini, bu. Saya sedang mengantar Raka periksa kesehatan. Bisa ibu bawakan surat riwayat hidup Raka? Bisa, bu?’
‘Oh, bisa-bisa. Sekarang juga ibu kesana. Terima kasih ya, nak’
‘Sama-sama, bu. Assalamualaikum’
‘Waalaikumsalam’
*rumah sakit*
Aku duduk diruang tunggu menunggu dokter keluar dan ibu Raka datang. Tak lama kemudian, dokter keluar. Langsung kuhampiri dokter itu.
“Dok, bagaimana keadaan Raka?”
“Pasien sudah ditangani, sampai saat ini pasien masih dalam keadaan koma”
“Boleh saya masuk, dok?”
“Silahkan. Saya permisi dulu”
“Baik, dok. Terima kasih”
“Iya, sama-sama”
*dalam ICU*
“Raka, bangun, Ka.. Kata lo, kita mau jalan. Ayo bangun.. Inikan masih hari ulang tahun lo. Ayo, Ka, bangun. Liat disini ada gue. Gue sayang sama lo, Ka” Aku menangis sejadi-jadinya, aku takut kehilangan Raka. Gak, gak boleh. Raka gak boleh kemana-mana.. Raka harus disini! Harus! Ah, aku baru ingat. Ibu Raka! Ya, pasti dia mencariku.
“Raka, aku keluar sebentar. Kamu cepet siuman ya, kamu kan kuat” Aku mengusap air mataku, lalu bergegas keluar. Beberapa meter dari ICU, kulihat Ibu Raka disana. Langsung kuhampiri dia.
“Ibuu” Aku menangis dipelukan Ibu Raka
“Kamu kenapa, nak? Raka mana?”
“Raka, bu.. Raka kecelakaan” Aku menangis sejadi-jadinya
“A.. Apa? Kecelakaan?”
“Iyaa, bu.. Maafin Vanda. Tadi pas Vanda telepon ibu, itu Raka udah kecelakaan. Vanda gak mau bikin Ibu panik.. Makanya Vanda bohong.. Maafin Vanda, bu”
“I.. Iyaa, nak. Gak apa apa. Kamu gak apa apakan?”
“Enggak, bu. Vanda gak apa apa, karena Raka kecelakaan saat menuju rumah Vanda, bu”
“Sekarang dimana Raka, nak? Dimana?”
“Diruang ICU itu, bu”
“Iyasudah, mari kita kesana”
Aku bersama Ibu Raka langsung keruang ICU. Raka belum juga sadar. Kulihat jam, ternyata sudah jam 9malam.
“Vanda, kamu pulang aja, nak. Ibu takut kamu sakit”
“Enggak, bu. Ibu aja istirahat, besok Vanda masuk siang. Jadi pas Vanda pulang ibu udah kesini”
“Kamu beneran gak apa apa, nak?”
“Iyaa, bu. Gak apa-apa. Udah, ibu pulang aja ya”
“Iyaudah kalo gitu, ibu pulang ya. Tolong kabari ibu kalo ada apa apa ya”
“Iyaa, bu”
Ibu Raka pun pulang. Aku sendiri disini, aku menatap Raka. Seandainya aja aku gak minta jalan, pasti semuanya gak bakal kayak gini.
“Raka, maafin gue ya.. Gara gara gue, lo jadi kayak gini. Gue tau, Ka, gue salah. Please, Ka, bangun.. Ada yg mau gue omongin sama lo.. Bangun, Ka”
Aku pun tertidur. Jam 2pagi, aku merasa ada sesuatu yg memegang tanganku dengan perlahan, sangat pelan. Aku terbangun, ternyata Raka! Raka sadar! Aku keluar mencari dokter ataupun suster.
“Suster, Raka sus! Dia sadar!”
“Raka? Pasien kecelakaan semalam?”
“Iyaa, sus! Dia sadar! Dia bangun dari komanya”
“Baik, saya akan kesana sekarang juga”
Aku dan suster tersebut kembali ke ICU, aku diminta untuk tunggu diluar. Baiklah, tapi aku sangat senang. Raka kembali! Em, Ibunya. Ya, aku harus memberi tau Ibunya. Aku mencari teleponku dan menelepon Ibunya.
‘Assalamualaikum, bu”
‘Waalaikumsalam. Ada perkembangan apa, nak?’
‘Em, Raka, bu! Raka sadar!’
‘Alhamdulillah, kamu gak bercanda kan?’
‘Enggak, bu. Vanda serius’
‘Iyasudah, Ibu kesana sekarang juga. Assalamualaikum’
‘Waalaikumsalam’
Suster keluar. Ia bilang, besok pagi Raka sudah akan dipindahkan kekamar rawat inap. Aku langsung masuk lagi.
‘”Raka..”
“Vanda” Ia tersenyum. Senyumnya menyimpan kesedihan juga kebahagiaan. Aku bisa melihatnya.
“Lu tidur aja ya, Ka. Masih dini hari juga. Kita lanjut ngobrol besok pagi, ya”
“Iyaa” Rakapun tidur.
Aku sangat senang, aku tau dia kuat. Dia hanya beberapa jam melewati komanya. Sungguh suatu anugrah. Sebenarnya, aku juga sangat senang karena orang pertama yg dia lihat saat dia sadar adalah aku. Ini membuatku bahagia. Lalu kudengar pintu terbuka.
“Nak” Suara perempuan itu. Aku yakin dia Ibu Raka. Aku menoleh kearahnya.
“Ibu, Raka sudah tertidur kembali.. Suster bilang, besok pagi Raka akan segera dipindahkan kekamar rawat inap”
“Alhamdulillah, apa yg Raka katakan saat Ia sadar?”
“Em, Raka hanya memanggil Vanda, bu. Itu saja.”
Keesokan paginya, Raka dipindahkan keruang rawat inap. Aku izin pulang karena akan sekolah. Disekolah, yang aku pikirkan hanya Raka. Teman sekolah tidak ada yg tau atas kejadian ini.
“Eh, lo kenapa, Van? Ngelamun terus daritadi” Ucap seseorang. Ternyata Maudy.
“Em, Raka.. Raka kecelakaan”
“RAKA KECELAKAAN?!!”
“Sstt, iyaa.. Semalam.”
“Terus? Kondisi dia sekarang gimana?”
“Semalam sempat koma, tapi sekarang udah sadar”
“Oh, baiklah..”
“Iyaa, nanti pulang sekolah, gue mau kerumah sakit lagi. Jagain Raka, lo mau ikut?”
“Boleh, deh”
“Iyaudah”
Bel pulang berbunyi. Aku dan Maudy langsung bergegas kerumah sakit. Jam 7 malam kita baru sampai disana karena macet.
“Ibu”
“Eh, Vanda”
“Raka udah bangun lagi, bu?”
“Iyaa, tadi bangun jam empat sore. Eh, itu ada Maudy juga ya”
“Iya, tante.. Aku mau temenin Vanda untuk jagain Raka”
“Oh, terima kasih ya”
“Iyaa, tante”
“Ibu pulang aja, besok pagikan ibu harus kesini lagi”
“Iyaa, ibu pulang yaa.. Kalo ada apa apa telepon ibu”
“Iyaa, pasti tante” Maudy tersenyum.
“Iyasudah, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Tidak lama kemudian, Raka terbangun.
“Vanda, Raka bangun tuh!” Ucap Maudy. Aku sedang berganti pakaian.
“Ah, iyaa. Tunggu sebentar” Ucapku lalu cepat-cepat keluar.
“Raka”
“Hai, Vanda, Maudy.. Dari kapan kalian disini?”
“Em, baru kok” Sahut Maudy.
“Oh.. Em, Vanda..”
“Iyaa, kenapa?”
“Gue mau jujur”
“Jujur apa?”
“Gue suka sama lu”
“Ow, kayaknya gue musti keluar dulu ya.. Bye” Ledek Maudy sembari berlalu keluar.
“Vanda” Panggil Raka.
“I.. Iyaa?” Sahutku. Andai saja ia tau bahwa 1menit lalu aku hampir terkena serangan jantung.
“Gue sayang sama lu, Van. Lu mau kan jadi pacar gue?”
“Raka? Lo jangan ngawur deh”
“Gue serius, Van.. Lo boleh kok kalo mau tolak permintaan gue”
“Sejujurnya sih, emang dari dulu gue suka sama lu”
“Jadi, lu mau?”
“Iyaaa” aku tersipu malu.
Maudy kembali masuk, kami sedang berpegangan tangan.
“Gimana? Udah jadian kan?”
“Hahahha. Tuh, Ka, Maudy tanya.. Kamu yang jawab aja deh”
“Kayaknya gak perlu dijawab deh. Gue udah tau jawabannya, ngomongnya aja udah pake aku-kamu. Pj lah gak mau tau”
“Hahahaha, iyaa ntar kalo gue udah keluar dari sini” jawab Raka.
“Kamu makan dulu ya, Ka”
“Iyaa”
“O ow.. Gue dikacangin nih kayaknya” Maudy sok-sok an ngambek.
“Enggak, kok.. Makanya lu nyusul buru” Sahutku
“Iyadah, yang udh punya mah beda..”
Kami tertawa. Seandainya Raka tidak kecelakaan, apakah ini akan terjadi? Iyasudah lah, mungkin skenario Tuhan seperti ini.

Thanks for reading the story, guys J

Rasa itu

Rasa itu..
Rasa sayang yg berbeda..
Bukan seperti rasa sayang untuk keluarga..
Bukan teman, sahabat, atau apapun itu..

Ini berbeda..
Aku tau ini berbeda..
Perasaan khusus yg aku punya..
Perasaan cinta untuk dirinya..

Aku tau ini salah..
Kita hanya sahabat..
Ya, sahabat tapi aku ingin lebih

Aku tidak akan memaksakan perasaan ini.. Biarlah ia mengalir begitu saja..

Penantian yang Sempurna

  "Va, aku mau bilang sesuatu.."
  "Apa? Bilang aja.."
  "Setelah lulus nanti, aku bakal kuliah di Jerman, ikut papah ku"
  "Oh.."
  "Va? Kamu marah ya sama aku?"
  "Ah, enggak kok. Terus, kamu berkunjung ke Indonesia, kapan?"
  "Setahun sekali"




  Itulah yg dia ucapkan lima tahun lalu. Saat kami masih kelas 3 SMA. Setelah kelulusan, ia benar benar pergi. Pergi dan belum kembali. Aku masih menunggunya. Dan akan terus menunggunya.
  "Mevaa.."
  "Iyaa, Mah?"
  "Kamu ngapain disitu? Kok belum berangkat kerja?"
  "Ah, nanti aja"
  "Udah jam sembilan lho"
  "Jam sembilan?!" aku terkejut. Aku ingat, jam sepuluh nanti aku ada jadwal meeting sama client. Aku langsung berlari ke kamarku, mengganti pakaianku tanpa memerdulikan mamah yg bingung melihat tingkahku. Setelah berpakaian, aku langsung berlari kebawah.
  "Kamu kapan dewasanya, Meva? Kalau kerja aja masih mama ingetin.."
  "Ini juga udh dewasa kok, Ma. Buktinya Meva udah bisa cari uang sendirikan"
  "Kalau itu sih iya, tapi tingkah kamu masih manja terus, hayo apanya yg dewasa?" ucap mama sambil membuat kue
  "Aaahhh, Mamaa.." aku langsung duduk dilantai seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Mungkin faktor anak tunggal lah yg membuatku manja seperti ini.
  "Tuhkan, baru aja mama bilangin. Udh langsung kayak gitu lagi. Ayo bangun, nanti baju kamu kotor.."
  "Gak mau"
  "Eh, ayo bangun"
  "Buatin aku jus dulu"
  "Mama ambilin jeruk nih"
   "Aaahh, enggak maaaa" jeruk. Ya, buah berwarna orange itu jurus pamungkas mama kalau aku lagi ngambek kayak gini
    "Nah, makanya bangun.."

    "Iya iya" aku pasang wajah cemberut ku secemberut-cemberutnya.
    "Nah, gitu dong" mamaku tersenyum
    "Gitu apanya.. Iyaudah, ma, aku berangkat dulu" ucapku sambil memakai tasku
    "Iyaaa, hati hati ya.."
    "Ya, assalamualaikum"
    "Waalaikumsalam"
Sesampainya dikantor, aku langsung duduk. Tiba tiba, aku teringat sesosok laki-laki memakai baju putih abu-abunya sedang memegang minuman sambil tertawa. Andre. Iya, itu Andre. Langsung kubuang jauh-jauh pikiran itu. Sekretarisku masuk.
    "Bu, client kita sudah datang"
    "Iyasudah, tolong kamu persiapkan data-data untuk meeting kali ini"
    "Baik, bu."
Bekerja diperusahaan Papaku, membuatku langsung berpangkat direktur. Tak heran, banyak laki-laki diluar sana yg mengejar-ngejarku. Tidak. Bukan mengejarku, tetapi kekayaanku.
    "Selamat pagi"
    "Selamat pagi" ucap clientku dengan senyumnya. Senyumnya sangat manis. Tapi tunggu, senyumnya... Ya, senyumnya! Aku seperti mengenalnya! Dua laki-laki itu menatapku, memperhatikan ku yg sedang terpaku.
    "Bu?"
    "Oh. Iya?"
    "Ada yang salah?"
    "Em, tidak, tidak ada"
    "Kenalkan, saya Meva Juniar"
    "Saya, Andre Alfiano, ini rekan saya, Arif Saputra"
    "Baiklah, kita mulai sekarang"
Lalu, kamipun membahas tentang kerja sama perusahaan kami. Aku tetap memperhatikannya, dia, dia benar-benar Andre! Andre-ku yang dulu! Tapi, dia tampaknya biasa saja. Apakah dia mengenaliku?
    "Baiklah, saya rasa pertemuan kita cukup sampai hari ini. Terima kasih." Aku langsung meninggalkan ruangan tersebut. Aku menuju ruanganku. Kubuka komputer ku. Kembali kubuka folder dimana isi dari folder tersebut adalah masa putih abu-abuku.
    "Dia benar-benar Andre" Gumamku.
Tak lama kemudian, sekretaris ku masuk lagi. Tapi, ia tidak sendiri. Ia bersama.. Tunggu, siapa laki-laki itu? Kucoba ingat-ingat lagi. Aku hampir mengingatnya. Ya, aku benar-benar mengingatnya! Dia.. Dia Andre!
     "Bu, Pak Andre ingin menemui Ibu"
     "Ohiya, silahkan. Silahkan masuk."
     "Saya permisi, bu"
     "Iyaa, silahkan"
Laki-laki itu duduk didepanku. Benar-benar didepanku!
     "Masih mengingatku?"
     "Eh? Hem" Aku gugup. Benar-benar gugup. Dia mengingatku!
     "Aku Andre, Va.. Apa kamu lupa?"
     "A.. Andre? Aku ingat. Ya, aku.. Aku ingat"
     "Apa kabar, Va?"
     "Baik, kabarmu sendiri?"
     "Baik-baik saja"
     "Oh, ba.. baguslah"
      "Va?"
      "Iyaa?"
      "Beri aku nomor pin mu"
      "Em, baiklah. 2458****"
      "Baiklah, tolong diterima, ya. Aku pulang dulu"
      "Iyaa, hati-hati ya"
      "Iyaa.."
Ah! Dia mengenalku. Senang sekali rasanya. Tetapi, bukan. Bukan hanya senang. Aku juga merasa marah, kecewa, dan benci kepadanya. Mudah sekali rasanya menjadi dia. Datang dan pergi seenaknya saja. Tapi bagaimanapun, aku tetap mencintainya.
      "Ah, bbm. Ya, kontak bbmnya!" Langsung kubuka smartphone ku. Ya, ada undangan darinya. Langsung kuterima. Kulihat, display picture nya. Anak kecil? Anak siapa ini? Anaknya kah? Jadi, dia sudah menikah?
      'PING!!!' Tiba tiba dia mengirimkan bbm kepadaku.
      'Hai, Meva'
      'Hai'
      'Sedang apa?'
      'Hah? Seperti abg aja pertanyaan kamu'
      'Gak makan siang? Udah jam makan siang lho'
Langsung kulihat jam, ternyata benar, sudah jam makan siang.
      'Iya, aku sedang menuju kantin'
      'Baiklah, kutunggu'
      'Hah? Memangnya sedang dimana kamu?'
      'Ayolah, cepat ke kantin'
Langsung kurapikan mejaku dan bergegas kesana. Seribu pertanyaan dibenakku. Dia dimana? Siapa anak itu? Apa dia telah menikah? Kapan dia menikah? Kupercepat langkahku, aku semakin penasaran dengan semua ini. Tiba dikantin, aku melihatnya sedang duduk dan tersenyum kearahku. Kuhampiri mejanya.
      "Kok kamu disini, Ndre?"
      "Iya, aku tunggu kamu tadi"
      "Aku kira, kamu pulang"
      "Inginnya sepergti itu, tapi ada yg aku mau omongin sama kamu"
      "Eh? Tentang apa?"
      "Tentang kita dulu"
      "Maksudmu?"
      "Tentang hubungan kita"
      "Bukankah kamu sudah memiliki istri? Anak itu?"
      "Istri? Anak? Tunggu-tunggu, maksudmu apa?"
      "Display picture bbm mu"
      "Ah, itu.. Dia, keponakan ku"
      "Keponakan?"
      "Iyaaa, yaudah, kita lupain aja. Aku mau ngomong serius sama kamu"
      "Baru ketemu dan langsung serius? Baiklah"
      "Hem, aku mau.. Kita menikah"
      "Menikah?!"
      "Iyaa, Va.. Menikah.. Kamu mau gak jadi istri aku?"
      "Gak, aku gak mau"
      "Kamu beneran gak mau? Aku serius, Va. Oke, mungkin aku pernah tinggalin kamu, tapi itu dulu, sekarang kamu liat mata aku. Aku benaran serius sama kamu."
      "Aku belum selesai ngomong, Ndre. Makanya dengerin dulu dong.. Aku gak mau, gak mau nolak maksudnya"
      "Kamu serius?"
      "Enggak, aku bohong.."
      "Mevaa?"
      "Iya aku serius!"
      "Baiklah, Va! Baiklah! Terima kasih. Aku menyayangimu. Besok malam, aku dan keluargaku akan kerumahmu. Bersiaplah" Matanya berbinar, aku tau dia benar-benar senang. Seandainya dia tau, aku lebih senang darinya.
      "Secepat itukah?" Aku terkejut. Dia benar-benar serius.
      "Iya, Va, iya. Aku gak mau kehilangan kamu lagi"
Aku tersenyum. Ternyata penantianku selama bertahun-tahun ini membuahkan kebahagiaan. Kami dipertemukan kembali. Ternyata benar, semua akan indah pada waktunya. Terima kasih, Tuhan.

Thanks, guys sudah membaca ceritanya. Saran dan kritik sangat ditunggu ya :)

Kamis, 20 Februari 2014

Welcome to my world

  Hai, kenalin gue Velia. Gue masih duduk dibangku kelas 7. Di SMPN 194 Jakarta Timur. Diusia gue yg baru 13, gue masih bersifat kekanak-anakan. Kadang. Disekolah, gue terkenal sebagai pribadi yg tegas, maybe galak. Haha. 71, ya itulah kelas gue. Kelas yg yaa bikin gue senang ya. Chairmate gue namanya Ester. Orangnya bawel, kadang. Kelas gue adalah kelas istimewa. Istimewa? Dibagian mananya? Gini, biasanya, kelas itu punya pengurus kelas. Yang ada ketua kelas, wakil ketua kelas, bendahara, sekretaris, seksi keamanan, kebersihan, dll. Tapi, dikelas gue, cuma ada 1 ketua kelas, yaitu gue sendiri. 1 bendahara, yaitu si Ester ini, dan 1 sekretaris, yaitu Ayunda. Okay, back to the topic, gue punya hobby berkuda, naik gunung, travelling dll. Kalian bisa lebih dekat dengan gue di twitter @ptrc_veli . Di blog gue, semua cerita bakal gue tulis buat kalian semua. Enjoy the story, guys :)