Sabtu, 22 Maret 2014

Fake Friends

Hi guys, kali ini gue akan membahas apa sih fake friends itu?

Oke, jadi gini. dalam dunia, dimana intimidasi merajalela dan pengkhianatan dan kebohongan adalah hal yang lumrah, seharusnya tidak mengejutkan untuk mengetahui bahwa kita dapat dikelilingi oleh rata-rata anak perempuan, frenemies dan teman-teman bahkan palsu.Teman-teman palsu atau fake friends adalah orang yang palsu yang menggunakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka juga cenderung menggertak dan menjadi bagian dari geng. Demikian juga, teman-teman palsu adalah salah satu dimensi dan hanya peduli tentang diri mereka sendiri. Untuk alasan ini, penting bahwa kita belajar bagaimana membedakan antara teman sejati dan yang palsu. Karena dikaitkan dengan teman palsu sering mengakibatkan ditindas.
Dan inilah daftar karakteristik untuk meninjau, mana teman sejati dan mana teman palsu. Jika teman-teman kalian memiliki karakteristik ini, maka berhati-hatilah. Sebaiknya kalian membuat hubungan pertemanan baru dan tentunya jauh dari istilah fake friends.
1."Teman-teman palsu yang egois."
Biasanya , teman palsu hanya akan memanggil kita ketika mereka ingin atau butuh sesuatu. Jarang, akan mereka sebut karena alasan lain. Pastikan bahwa jika teman tidak menelepon untuk check-in atau hanya untuk chatting, maka orang tersebut tidak benar-benar teman sama sekali.
2."Teman-teman palsu berkembang pada gosip dan drama."
Stres untuk kita bahwa jika seseorang menikmati bergosip tentang orang lain, maka mereka mungkin akan bergosip di belakang punggung mereka juga. Bergosip dan menyebarkan desas-desus memiliki konsekuensi serius dan di dasar agresi relasional dan jenis-jenis bullying. Pastikan kita tahu bahwa kita harus menghindari persahabatan dengan orang-orang yang berkembang pada gosip.
3."Teman-teman palsu mengharuskan kalian untuk berpura-pura."
Ciri dari persahabatan yang sehat adalah bahwa kalian dapat menjadi diri sendiri. Jika kalian merasa seperti mereka harus memakai masker atau tidak dapat otentik, maka itu adalah tanda dari seorang teman palsu. Dengan kata lain, jika kalian harus berbicara atau berpakaian berbeda untuk menyesuaikan diri, maka orang-orang yang bukan teman sejati. Mereka mungkin bagian dari kelompok bukan sekelompok teman . Teman-teman palsu juga resor untuk tekanan teman sebaya, yang sering menyebabkan bullying, ostracizing dan bentuk-bentuk agresi relasional .
4."Teman palsu berbohong." Banyak kali, teman-teman palsu tidak merasa baik tentang siapa mereka sehingga mereka berbohong tentang prestasi mereka, nilai-nilai mereka, pakaian mereka, harta benda mereka - apa saja untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik . Dan jika mereka berbohong tentang diri mereka sendiri, mereka akan berbohong tentang kita juga. Pastikan kalian tahu bahwa jika mereka menangkap seorang teman di beberapa kebohongan, itu mungkin bukan persahabatan yang sehat.
5."Teman-teman palsu sangat penting." Jika teman-teman kita terus-menerus mengkritik kita, sekarang saatnya untuk melihat lebih dekat pada persahabatan. Teman sejati adalah mendukung dan mendorong, tapi teman-teman palsu sering mengkritik. Gadis khususnya bersalah bersikap kritis tentang berat badan atau berat badan intimidasi. Jenis bullying sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan atau perilaku bahkan melukai diri makan.
6."Teman-teman palsu tidak senang ketika Anda berhasil." 
Jika teman-teman kalian memiliki sesuatu yang menghina mengatakan setiap kali waktu kalian berhasil, maka mereka bukan teman nyata. Teman sejati merayakan satu sama lain prestasi.
7."Teman-teman palsu yang tidak dapat dipercaya." 
Biasanya, teman-teman yang baik akan menyimpan satu rahasia orang lain. Dengan kata lain, teman sejati tidak memberitahu dunia yang kita sangat rahasiakan. Misalnya, jika teman-teman kalian selalu menumpahkan kacang, maka saatnya untuk mulai mempertimbangkan bahwa teman adalah pengganggu.
8."Teman-teman palsu jarang memilindungi anda." 
Teman sejati akan membela satu sama lain, terutama ketika dihadapkan dengan bullying. Sementara itu, seorang teman palsu baik akan menjadi pengamat yang tenang untuk bullying atau bahkan dapat mengambil bagian dalam bullying untuk menghindari menjadi korban berikutnya dari bullying. Jika ini adalah kejadian biasa, kalian harus mempertimbangkan baik berbicara dengan teman tentang menjadi pasif atau mulai mencari kelompok lain teman-teman.
Oke, saya rasa cukup tanda-tanda serta penjelasannya. So, lebih hati-hati guys dalam berteman.
Thankyou :)

Rabu, 12 Maret 2014

Cinta yang Abadi

Pagi ini berjalan seperti biasanya. Ia terbangun, mandi, mempersiapkan alat sekolah, berduduk depan meja rias, memandangi dirinya dan turun lalu sarapan bersama papa dan mamanya.
“Valerina, ayo turun..” Teriak Mamanya.
“Iyaa, Ma sebentar” Jawabnya sembari masih terus memoleskan bedak diwajah manisnya.
‘Hem, bedak udah, sekarang tinggal liptint, dan sedikit blush on’ Ucapnya pada dirinya sendiri.
Setiap harinya memang beginilah dia. Valerina Handoko, gadis 16 tahun selalu berangkat kesekolah menggunakan sedikit make up, yg penting wajahnya terlihat segar. Dikamar yg serba pink ini, ia sering memanjakan dirinya. Setelah selesai, ia berkaca.
‘Taraa..! Selesai deh. Keliatannya manis, tapi kenapa Andrian gak pernah dekatin aku, ya?’ Ucapnya saat berkaca.
Ya, Andrian. Sesosok lelaki yg sangat ia dambakan. Tinggi, putih, hidung mancung, menurut Valerina, Andrian adalah sesosok pangeran. Valerina menyukai Andrian sejak mereka memasuki tengah semester ganjil. Entah apa yg membuatnya tiba-tiba tertarik dengan tipe pria seperti itu. Sebelumnya, ia selalu menyukai pria berkacamata. Memang sesuatu yg sulit dijelaskan,
“Pagi mama papa” Ucapnya seraya menuruni anak tangga dirumahnya.
“Pagi, Valerina. Ayo segera sarapan setelah itu kita berangkat. Papa ada meeting pagi ini” Ucap papanya.
“Iyaa, Pa.. Pa, kapan nih aku mau dibelikan mobil?” Tanya Valerina.
“Dengar, walaupun kita memiliki cukup uang, kita gak boleh menghambur-hamburkannya seperti itu.” Ucap mamanya.
“Tapi, ma. Cuma mobil. Lagipula aku gak minta yg mahal-mahal kok” Sahut Valerina.
“Yaudah, nanti kalo usia kamu 17 tahun papa belikan kamu mobil. Tapi ingat prestasi gak boleh menurun” Ucap papa Valerina mengalah.
“Sip, boss!” Valerina semangat.
“Papa ini, anaknya minta apa-apa selalu diturutin, kapan dia mau ngerti cara gunain uang?” Mama Valerina kurang setuju.
“Udahlah, mah. Gak apa-apa.” Sahut papanya.
“Iyaudah, pah, berangkat yuk!” Ucap Valerina.
“Ayo”
“Mah, aku berangkat dulu ya” Ucap Valerina sambil mencium mamanya.
“Iyaa hati-hati ya”
Disekolah, ia langsung disambut oleh teman karibnya. Putri.
“Akhirnya, putri raja datang jugaa...” Celetuk Putri.
“Kok putri raja sih, Put?” Tanyanya heran.
“Ya habisnya, lu lama banget dateng. Pasti inimah kelamaan dandan.” Ucap Putri.
“Nah, tuh lu tau”
“Eh, tapi kayaknya hari ini lo keliatan cakepan deh” Puji Putri.
“Putri, tolong ya, gak usah puji-puji gue. Gue emang dari dulu cakep. Lu nya aja kurang sadar” Valerina membanggakan diri.
“Yeh, pd banget lu. Tapi seriusan, lu hari ini cakepan”
“Ah, gua tau Put. Udah bilang aja lu minta apa. Gak usah muji-muji gini”
“Entar malam, temenin gue ke mall ya?”
“Iyaiya”
Disela pembicaraannya, tiba-tiba Andrian melewati mereka berdua. Kali ini, Andrian memakai jaket biru.
“Ow, pangeran gue. Put, astaga, pangeran gue ganteng banget” Ucap Valerina tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
“Lebay lu. Biasa kali” Ucapnya.
“Gak, demi apapun Andrian ganteng banget pake jaket biru. Seandainya aja gue jadi pacarnya” Valerina mulai berkhayal.
“Alah, lu sih dulu pake jual mahal. Pake bilang depan Andrian kalo lo udah punya pacar lagi. Coba enggak, mungkin kalian udah jadian.” Celetuk Putri.
Valerina langsung teringat pada hari itu. Hari itu, saat sedang uts, Valerina mendapat keberuntungan satu kelas dengan Andrian. Saat jam istirahat, ia langsung mendekati Putri yg duduknya dibelakang Andrian.
“Putri, tadi gue lihat Rafa lagi jalan sama Rizka” Ucap Valerina sedih.
“Hah? Lo serius? Dimana?” Tanya Putri.
“Iyaa gue serius. Pokoknya nyebelin banget. Gue mau putus aja, putus..!” Ucap Valerina.
Andrian yg mendengar percakapan itu langsung menengok kearah Valerina. Valerina hanya memberi tatapan kok-lu-kaget. Setelah itu Andrian langsung keluar kelas.
“Ah pea! Lu tau gak sih? Andrian suka sama lu. Lu pake ngomong gitu lagi” Omel Putri.
“Lu serius dia suka sama gue? Ah, bodo. Itu Rafa gimana?”
“Ah, terserah lah mau lu apain. Itutuh Andrian kasian”
“Heh! Malah bengong! Udah ayok masuk kelas” Tegur Putri memecahkan lamunan Valerina.
“Eh? Em iyadeh”
Saat dikelas, Valerina hanya memperhatikan Andrian. Yang diperhatikan terus mengerjakan tugas. Memang benar, setelah kejadian saat uts, sikap Andrian lebih sedikit menjauh. Dulu Valerina sedang memiliki hubungan dengan Rafa, makanya ia tidak terlalu memikirkan Andrian.
“Ayo, kumpulkan tugasnya sekarang” Ucap guru Matematika itu.
“WHAT?!! Mati gue!! Gue belum selesai!” Valerina berteriak heboh.
Satu kelas langsung memandang kearahnya. Yang dipandang salah tingkah.
“Kamu kenapa Valerina?” Tanya Pak Hanggono.
“Ah, tugas saya belum selesai, pak”
“Daritadi kamu ngapain aja?” Ucap Pak Hanggono meninggi.
“Ya, mikirlah. Liat aja soalnya susah kayak gini. Gak kira-kira sih bikin soalnya” Celetuk Valerina.
“Apa kamu bilang? Siapa suruh kamu gak belajar? Terus daritadi selama saya nerangin, kamu ngapain aja? Keluar kamu sekarang! Gak usah ikut pelajaran saya!” Pak Hanggono mencerocos.
“Iyaa. Bawel maksimal” Ucap Valerina.
“Ngomong apalagi kamu?!” Tanya Pak Hanggono.
“Gak ngomong apa-apa tuh” Jawab Valerina cuek lalu ia langsung keluar kelas.
Diluar, ia berjalan kearah taman. Taman dibelakang sekolah adalah taman favoritnya. Biasanya ia menghabiskan waktu istirahat disana. Diperjalanan, ia menendang sebuah kaleng minuman.
“Aduh!” Pekik seseorang.
“Waduh, kayaknya kena orang deh. Ah, kabur ajalah” Bisik Valerina pada dirinya sendiri.
“Heh! Jangan kabur lo!” Teriak seseorang itu.
Lalu orang itu mengejar Valerina. Valerina-pun lari sekencang-kencangnya. Hingga diujung taman ia berhenti karena tangannya ditangkap oleh orang itu.
“Ih! Lepasin! Lo siapa sih? Gue gak kenal” Ucap Valerina dengan muka tak berdosa.
“Eh, pake tampang pea! Itu ngapain lo lempar-lempar kaleng ke gue? Salah gue apa coba?” Sahutnya.
“Gue gak sengaja tau!”
“Iyaudah, sini ikut gue” Ucap orang itu sambil menarik tangan Valerina.
“Gak usah pegang-pegang! Sksd banget sih. Ew” Ucap Valerina.
“Ini anak, dibaikin malah kayak gini. Iyaudah serah lu!” Ucap orang itu sambil melepas tangan Valerina dan pergi.
“Eh, Jordan tunggu!” Teriak Valerina.
Yang dipanggil langsung menghentikan langkahnya. Ia langsung berbalik badan dan memandang Valerina penasaran.
“Lu tau darimana nama gue Jordan?” Tanya orang itu.
“Itu, dari baju lo” Jawab Valerina sambil menunjuk baju seragam yg Jordan pakai.
“Wah, diem-diem merhatiin gue ya. Lu suka ya sama gue?!” Ucap Jordan dengan tampang meledek.
“Eh, yaampun pd banget lu. Najong” Valerina salah tingkah.
“Hahaha, yaudah jadi gak ikut gue?”
“Iya jadi”
Lalu duduklah mereka berdua ditaman. Dibangku panjang berwarna hijau.
“Mau ngomong apa?” Tanya Valerina.
“Kita perkenalan dulu. Gue Jordan, lu siapa?”
“Em, gue Valerina”
“Nama lu sok cakep” Celetuk Jordan.
“Ih, emang gue cakep” Valerina tersenyum sok manis.
“Ih. Yaudah serah lu. Lu kelas berapa?”
“Kelas sepuluh satu. Lu?”
“Gue kelas sebelas lima. Gue kakak kelas lo. Jangan songong makanya”
“Bawel”
“Lu tadi kenapa nendang-nendang tuh kaleng? Nih liat kepala gue memar”
“Hah? Lo serius? Coba liat” Valerina beranjak dari tempat duduknya.
“Yakan memar? Kerjaan lo nih”
“Yah, maaf deh”
“Iya gak apa-apa. Ceritain ke gue, kenapa lu kayak gitu?”
“Jadi tadi ceritanya tuh gue lagi liatin doi gue, pas banget tuh lagi pelajarannya Pak Hanggono. Terusnya dikasih tugas, tiba-tiba disuruh dikumpulin. Padahal satupun gue belum. Akhirnya gue disuruh keluar deh” Jawab Valerina panjang lebar.
“Makanya, dengerin ya, suka atau cinta sama seseorang boleh. Ngeliatin juga boleh. Tapi kalo lagi belajar ya belajar dong” Nasihat Jordan.
“Iya iya. Tapikan secara gitu”
“Secara apalagi coba? Emang lu suka sama siapa sih?” Tanya Jordan.
“Sama Andrian”
“Oh, dia”
“Lu tau?”
“Taulah, adek kelas gue tuh di sd”
“Hah serius lu? Hahaha. Jangan bacot ya”
“Iya”
Bel istirahatpun berbunyi. Otomatis semua menuju kantin. Lalu saat Valerina sedang berbincang-bincang dengan Jordan, Andrian menghampiri Valerina.
“Rin, gue mau ngomong” Ucap Andrian menarik tangan Valerina sembari melirik sinis kearah Jordan.
“I.. Iya” Jawab Valerina.
Andrian menarik Valerina jauh-jauh dari Jordan.
“Rin denger ya, gue gak suka lo deket-deket sama Jordan” Ucap Andrian.
“Loh? Kenapa?” Tanya Valerina heran.
“Lo gak tau sifat aslinya Jordan, Rin”
“Aduh gue makin gak ngerti Andrian. Kenapa?”
“Denger, Jordan itu seneng banget sama yg namanya mainin perempuan. Udah banyak korban dia. Dan gue gak mau lo jadi salah satu korbannya Jordan”
“Nah terus apa urusannya sama lu? Kalo gue jadi korbannya Jordan, kenapa lu yg ribet?”
“Aduh, Na. Gue tuh sayang sama lu. Gue gak mau lu sakit hati” Andrian keceplosan.
“Apa lu bilang? Gue gak salah denger?”
“Engga, Na.. Gue sayang lo, banget. Tapi lo gak pernah ngerti”
“Gimana gue mau ngerti sih? Lo aja tuh dingin sama gue, cuek”
“Iyaudah, gue minta maaf. Tapi, lo mau gak jadi pacar gue? Maaf kalo gue lancang” Ucap Andrian.
“Eh? Em, jawabannya pulang sekolah ya” Ucap Valerina.
Valerina langsung berbalik dan menghampiri Jordan.
“Jordan, sorry ya gue kekelas dulu”
“Iyaa gak apa-apa. Kalo mau cerita lagi, cari gue aja”
“Iyaa”
Valerina langsung berlari menuju kelas dan meninggalkan Andrian bersama Jordan. Sebenarnya, Valerina tidak marah atas ucapan Andrian. Yang ada, Valerina sangat senang. Sehingga dia seperti ini.
“Ngomong apa lo sama Valerina?” Tanya Jordan.
“Bukan urusan lu”
“Valerina urusan gue”
“Emang lo siapanya dia?!” Andrian mulai terpancing emosi.
“Gue udh pegang rahasianya dia”
“Oh Cuma itu? Sayangnya bentar lagi dia jadi pacar gue”
“Gak usah banyak laga deh. Gue tunggu lo di Jalan Anggrek 4 jam sembilan malam” Ucap Jordan.
“Mau ngapain? Balapan? Gue bawa motor atau mobil?”
“Mobil. Gue tunggu” Ucap Jordan sambil berlalu.
Dikelas, Valerina langsung menghampiri Putri.
“Put gimana nih?” Ucap Valerina panik.
“Gimana apanya sih?”
“Aduh ituloh. Aahh, lo mah gak ngerti sih!”
“Ya gimana gue mau ngerti Valerina? Lu gak ngomong apa-apa sama gue” Putri semakin tidak mengerti.
Tak terasa bel pulang berbunyi.
“Astaga udah bel pulang. Yaampun, Put gue harus gimana?!” Tanya Valerina semakin panik.
“Serah lu ah, gue gak ngerti” Jawab Putri.
Lalu, Andrian menghampiri Valerina.
“Na, gimana? Mau atau gak?” Tanya Andrian.
“Enggak! Eh, bukan-bukan. Maksud gue, gue mau. Eh, enggak. Eh iya gue ma.. Argh” Jawab Valerina salah tingkah.
“Lu tenang dulu. Mau, atau enggak?” Tanya Andrian sekali lagi.
“Gue mau” Jawab Valerina
“Okay, makasih. Love you. Aku balik duluan ya” Ucap Andrian.
“Me too. Hati-hati ya” Jawab Valerina.
“KALIAN JADIAN?!! ASTAGA AKHIRNYA PENANTIAN TEMEN GUE BERAKHIR JUGAA!!”
“Haha lu apaan sih”
“Ciee”
“Udah ah, gue mau pulang. Bye”
“Okaayyy”
Dimobil, Valerina tersenyum tak ada hentinya. Ia sangat bahagia. Sesuatu yg tidak pernah ia bayangkan.
“Kamu kenapa sih, Na? Senyum terus”
“Ah, gak apa-apa kok, pah”
Dirumah ia langsung masuk kamar dan menghempaskan dirinya dikasur. Ia melirik kearah buku diary nya. Diambilnya buku berwarna pink itu dimeja berwarna pink sebelah kasurnya. Ia buka selembar demi selembar buku diary itu. Isinya rata-rata menceritakan dirinya dan Andrian. Diraihnya pulpen dimeja itu. Dan mulai ditulisnya.

                                                                                                            21 Maret 2014
Dear diary,
Sesuatu yang gak pernah aku bayangkan. Hal yang seperti mimpi tapi benar terjadi. Aku gak pernah nyangka sampai sejauh ini. Ternyata, kami bisa bersatu. Kami, aku dan Andrian. Sore tadi dia yg menyatakannya kepadaku. Munafik kalau aku bilang aku gak senang. Walaupun sempat kaget, inilah kenyataannya. Semoga aja, aku dan dia bisa lama. Bisa lanjut terus dan erat terus. Aamiin.

Ditutupnya diary itu. Lalu ia memejamkan mata dan tertidur. Saat pukul sepuluh malam, handphone nya berdering. Dilihatnya, ternyata panggilan masuk dari Jennie, teman sekelasnya.
“Hallo, Na”
“Hallo, Jen. Ada apa nih?”
“Em sorry ganggu malem-malem. Lu bisa keluar rumah gak? Ada yg harus gue kasih tau. Sekarang gue didepan rumah lu”
“Oh, gitu? Bisa kok bisa, tunggu ya”
“Iyaa”
Valerina bergegas keluar rumah. Benar saja, didepan gerbangnya sudah ada mobil Jennie. Valerina masuk kemobil itu.
“Hai, Na”
“Hai. Ada apa sih?”
“Udah entar juga tau kok”
Jennie menjalankan mobilnya. Ditengah perjalanan mereka berbincang-bincang.
“Lo udah jadian sama Andrian kan?”
“Udah, tadi sore”
“Tadi sore? Yaampun, baru bentar udah kayak gini”
“Kayak gini apa, Jen?” Valerina penasaran.
“Eh? Gak kok. Hehe”
“Loh inikan Jalan Anggrek, ngapain kesini? Kan banyak yg balapan. Ngeri”
“Kalo lu gak dateng lu nyesel”
“Kok gitu?”
Jennie hanya diam. Sesampainya di Jalan Anggrek 4, ia melihat keramaian. Ada kobaran api disana.
“Itu rumah kebakar?!” Valerina terkejut.
“Bukan, bukan rumah. Itu mobil. Mobil Andrian”
“Jen? Apa lu bilang? Andrian?”
“Iya, pacar lo”
“Astaga! Terus Andrian sekarang dimana, Jen? Dimana?”
“Didalem mobil itu, Na”
“Astaga, Jen? Lu gak bohong kan? Jennie? Kenapa gak ditolong?” Valerina langsung berlari kearah mobil itu.
“Naa..!!” Jennie mengejar Valerina.
“Astaga, Jen. Andrian.. Ya Tuhan”
“Na, lu yg sabar ya” Jennie memeluk Valerina.
“Jen gue sayang dia, Jen. Gue gak mau kehilangan dia. Please bilang sama gue ini mimpi Jen. Please” Valerina menangis.
“Enggak, Na.. Ini kenyataan. Gue tau kok gimana sakitnya. Lu yg sabar aja ya. Berdoa yg terbaik buat Andrian. Semoga Andrian diterima disisi Tuhan” Ucap Jennie.
“Enggak, Jen. Andrian masih hidup. Dia masih hidup. Gue yakin bentar lagi juga dia keluar dari mobil itu” Valerina tidak percaya.
“Na, inilah kenyataannya. Lu harus terima, Na”
“Enggak, Jen!!”
Valerina berlari sekencang-kencangnya. Lalu tiba-tiba ada mobil yg melintas. Lalu Valerina merasakan sesuatu yg nyaman. Dan semuanya gelap.

Valerina bertemu dengan Andrian lagi. Ditempat yg indah. Dikehidupan yg abadi. Cinta mereka pun abadi.

Sabtu, 22 Februari 2014

Belum Saatnya

   
   Pagi ini cuacanya agak mendung, jadi mau gak mau ya aku harus berjalan lebih cepat. Kota Bandung memang memiliki cuaca seperti ini, tapi ini berbeda, nampaknya beberapa belas menit lagi akan turun hujan. Jarak dari rumah kesekolah cuma beberapa puluh meter aja, jadi ya aku lebih milih untuk berjalan kaki. Selain udara yg sejuk, bisa melancarkan peredaran darah juga kan. Akhirnya, sampailah aku disini, didepan gerbang sekolah. Aku sekarang duduk dibangku kelas 8 SMP. Aku langsung bergegas menuju kelas.
'Bruk!'
Ah sial! Siapa yg menabrakku?
"Em, maaf, maaf. Saya gak sengaja" Ucapnya sembari membereskan bukuku yg jatuh.
"Iya udah gak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati" Jawabku ketus.
"Iya iya, saya benar-benar gak sengaja" Pintanya sekali lagi.
"Iyaa gak apa-apa"
Kulihat wajahnya, hem, orang asing rupanya. Sepertinya, anak baru. Terlihat dari gayanya yg memakai putih-biru dan memakai jaket biru. Padahal seharusnya ia memakai batik.
"Anak baru, ya?" Aku mencoba bertanya.
"Hem, iyaa, kenalin saya Radit" Sahutnya seraya mengenalkan diri.
"Gue Lea, anak 81. Lu kelas berapa?"
"Hem, lo beneran kelas 81?" Tanyanya.
"Iya, kenapa?" Tanyaku balik.
"Tadi, gue abis keruang kepsek, terus katanya gue ditempatkan dikelas 81 juga.." Jelas Radit.
"Oh, gitu. Iya udah, gue ke kelas dulu ya" Aku bergegas.
"Hey, tunggu.. Bareng ya?"
"Iyaaa"
  Sesampainya dikelas, aku langsung menyuruh Radit duduk sebangku dengan Rafa. Kalau dilihat-lihat, Rafa dengan Radit sangat berbeda. Rafa dengan kacamatanya dan rambut yg disisir rapi ala anak kutu buku, sedangkan Radit dengan rambut yg dimodelkan dan jaket birunya yg membuat dia semakin terlihat keren. Ku akui, ia memang lumayan keren.
"Duh, pagi-pagi udah ama yg bening-bening aja nih. Siapa sih itu Le?" Celetuk Shafa.
"Anak baru. Kenapa?"
"Keren banget ya ampun" Ucap Shafa kagum.
"Biasa aja ah." Sahutku.
"Ih, keren tau. Lu gak suka apa sama dia?"
"Biasa aja."
Lalu, guru ipa masuk kelas. Aku langsung menghampiri.
"Ibu, ada anak baru. Disuruh perkenalkan diri aja dulu, ya, bu?"
"Yang mana? Coba kamu panggil sini" Ibu Rani celingukan
"Iyaa, bu"
Aku menghampiri mejanya. Dia menatapku seakan-akan ingin melahapku.
"Biasa aja dong liatnya. Lo disuruh kedepan tuh" Ucapku ketus.
"Iya, ini udah biasa. Malah paling biasa" Jawabnya.
"Apanya yg biasa? Udah sono kedepan buru"
"Iya"
  Lalu dia berjalan kedepan.
"Yaampun, jalannya aja keren banget" Ucap Shafa dengan kagumnya.
"Alah, lebay banget sih lu. Kasih tau gue, bagian mananya yg keren?" Ucapku.
"Semuanya!" Jawabnya semangat.
"Halah"
"Perkenalkan nama saya Muhammad Raditya. Saya siswa pindahan dari Bogor" Ucapnya didepan kelas
"Namanya aja keren banget. Em, gue jatuh cinta pada pandangan pertama" Ucap Shafa tanpa mengedipkan mata ke arah Radit.
"Pret!" Jawabku.
"Ada yg mau ditanyakan?" Tanya Bu Rani.
"Saya mau nanya, bu!" Shafa mengangkat tangan.
"Iya, silahkan Shafa" Ucap Bu Rani.
"Nomor pin bb berapa?" Tanya Shafa. Sontak satu kelas tertawa.
“Udah, gak usah dikasih gak apa-apa” Celetukku. Kalau dipikir kan kasian juga Shafa, saking sukanya sampe kayak begini kelakuannya.
“Hahahaha, iyaudah.. Ada pertanyaan lagi?” Tanya Bu Rani.
Sekelas diam, sepertinya tidak ada.
“Iyasudah, kalau tidak ada, kita lanjutkan pelajarannya ya. Radit, terima kasih. Kamu boleh duduk kembali” Ucap Bu Rani.
“Iyaa, bu. Terima kasih”
“Iyaa”
Radit kembali duduk. Saat pelajaran berlangsung, aku merasa ada yg memperhatikan aku. Kulihat Shafa, dia sedang serius kepada pelajaran. Lalu kutengok Radit.. Ya, dia sedang melihatku. Dia langsung mengalihkan pandangan setelah aku memergoki dia sedang memperhatikanku. Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi.
“Lea, kantin, yuk?” Ajak Shafa.
“Em, lo duluan aja. Gue lagi nanggung nih. Dikit lagi” Sahutku masih mengerjakan tugas.
“Yah, iyaudah deh. Mau nitip gak?”
“Boleh, roti aja satu ya. Yang rasa keju”
“Okay,”
Kulihat Radit juga masih terpaku dengan tugasnya. Tidak terlalu memperdulikannya, aku kembali konsentrasi ke tugasku.
“Lea..” Panggil Radit. Ya, sepertinya Radit. Karena hanya ada dia dan aku dikelas.
“Iyaa?” Sahutku tanpa menoleh sedikitpun.
“Em, kantin dimana, ya?”
“Oh, itu. Dari sini, lurus aja sampe ujung, terus belok kanan dan kekiri dikit.”
“Oh, gitu. Lu udah selesai belum?”
“Em, dikit lagi” Jawabku masih terus menulis.
“Oh..” Jawabnya.
“Yap, udah selesai nih. Kenapa?” Tanyaku.
“Kekantin bareng, yuk?” Tawarnya.
“Okay”
Kamipun berjalan menuju kantin. Kulihat dari gerak-geriknya, nampaknya ia canggung. Ternyata, cowok cool kalo lagi canggung tuh lucu ya..
“Kenapa pindah kesini?” Tanyaku mencairkan suasana.
“Eh? Em, Mama dipindahkan kerja kesini.” Jawabnya.
“Oh, berarti disini lo sama mama lo aja?”
“Iyaa”
Dari tadi kami jalan, sepertinya banyak perempuan yang memperhatikan. Tapi sepertinya bukan memperhatikan kami, tapi hanya Radit. Aku tidak. Sampai akhirnya, Fera, anak yg terkenal satu sekolah menghampiri kami.
“Hai, anak baru, ya?” Sapanya kepada Radit.
“Iyaa”
“Pindahan dari mana?”
“Bogor”
“Oh iya, nama lo siapa?” Fera mulai menjalankan aksinya.
“Em, Radit, gue duluan ya. Bye” Ucapku.
“Oh, jadi nama lo Radit?”
“Iya. Eh gue kekantin dulu ya.” Ucap Radit lalu sedikit berlari mengejarku.
“Lea, tunggu” Teriaknya. Aku langsung berhenti dan menoleh.
“Ayo, cepet” Sahutku. Dia langsung menghampiriku.
“Yang tadi itu siapa sih?” Tanyanya.
“Oh, itu.. Dia Fera. Paling famous satu sekolah” Jawabku.
“Oh, gitu”
“Iya, kenapa? Lu suka, ya?”
“Ih, enggaklah. Sok tau banget lu”
“Dia tadi udah mau modusin lo tuh” Ucapku. Jengkel juga sih rasanya.
“Ah, udahlah.. Gak usah dibahas lagi” Jawabnya.
Dikantin, kami memesan dua nasi goreng special dan dua gelas jus alpukat. Aku lihat dia, cara makannya, cara minumnya, ah dia terlihat berbeda. Aku merasa ada suatu getaran dihatiku, sepertinya, aku mulai.... ah tidak.
“Eh, kok ngelamun?” Tegurnya mengagetkanku.
“Eh? Em, enggak tuh.”
“Udah cepet abisin. Abis itu temenin gue jalan-jalan. Anterin gue kesetiap sudut sekolah” Pintanya. Eh, bukan, bukan meminta. Tapi mengultimatum. Huh.
“Enak aja. Emang lu siapa nyuruh-nyuruh gue begitu?” Jawabku ketus.
“Lo ketua kelas, lo orang pertama yg gue kenal, lo orang yg gue traktir dan lo orang pertama yg deket sama gue”
“Eh, tunggu-tunggu. Traktir? Kapan lo traktir gue?”
“Sekarang, gue bakal traktir lo”
“Serius? Okelah, gue terima. Hahaha”
Setelah makan, aku langsung menemani Radit dan mengenalkan setiap bagian sekolah ini ke Radit. Terkadang, dia meledekku. Atau malah aku yg meledeknya. Kami tertawa bersama. Padahal baru hari pertama kenal, tapi rasanya seperti sudah lama kenal. Lalu, kami kembali kekelas. Sampai dikelas, kami melihat Shafa sedang cemberut.
“Lo kenapa, Shaf?” Tanyaku.
“Gak, kok. Gak apa-apa.” Jawabnya.
“Apanya yg gak apa-apa? Tuh muka lo kusut banget.”
“Enggak, gue gak apa-apa. Udah, nih tadi lo pesen roti. Nih rotinya”
“Astaga! Gue sampe lupa. Aduh, sorry banget ya, Shaf.. Sorry banget”
“Iyaa udah gak apa apa”
Saat pelajaran berlangsung, aku baru sadar. Ternyata penyebab kecemberutan Shafa adalah karena dia cemburu. Ya, tepat sekali. Dia cemburu. Aku baru sadar, Shafa menyukai Radit.
“Shaf?”
“Yaa?”
“Lo tadi cemburu, ya? Maaf ya, gue gak maksud apa-apa kok”
“Cemburu? Ya enggak lah, Le. Gue malah seneng lo deket sama Radit”
“Ih, maksud lo apa sih? Gue gak suka kok sama Radit. I swear.”
“Em, udah, gak usah dibahas lagi. Gue gak bakal marah sama lo. Okay?”
“Bener, ya? Okaaayyy.”
Sepulang sekolah, saat aku berjalan. Aku melihat Shafa sedang mengusap matanya. Rumahnya dari sekolah agak jauh, jadi ia dijemput menggunakan mobil. Aku bertanya-tanya, kenapa Shafa mengusap air matanya? Apakah dia menangis? Menangis kenapa? Aku langsung buru-buru jalan ke rumah. Dua jam sampai dirumah, aku langsung menelepon Shafa. Dia mengangkat teleponku.
‘Halo, Shaf?’
‘Halo?’
‘Shaf? Lo gak apa-apakan?’
‘Hah? Enggak, gue gak apa-apa. Lo nelepon ada apa, ya?’
‘Em, Cuma iseng aja sih. Haha’
‘Hahaha. Iyaudah, kalo iseng doang mah lanjut sms aja mau?’
‘Gak, gak usah.. Udah dulu deh. Bye’
‘Bye’
Sekarang aku tau, dia benar-benar menangis. Terdengar isakan saat ia berbicara. Rupanya ia benar-benar cemburu. Saat disekolah, ia terlihat sangat tegar, tidak terlihat sedikitpun tanda ia cemburu. Oh, Tuhan..
“Leaaaaaa....!!!”
“Apa, Shaf? Seneng banget keliatannya?”
“Em, gue jadian sama Arya”
“Hah? Ulangi sekali lagi”
“G U E   J A D I A N   S A M A   A R Y A”
“Lo serius?! Bukannya lo suka sama Radit?”
“Cuma kagum, Le. Bukan suka”
“Terus lo waktu itu nangis kenapa?”
“Oh, itu. Itu gara-gara si Arya cerita ke gue, kalo dia mau nembak seseorang.. Ternyata seseorang nya itu gue, Le, gueee..!!”
“Hahaha, selamat yaaa.. Langgeng terus”
“Aamiin aamiin”
“Em, ada yg baru jadian, ya?” Tanya Radit.
“Iyaaa tuh si Shafa”
“Bentar lagi juga ada yg nyusul” Celetuk Shafa.
“Siapa?!” Tanyaku.
“Em, taudeh ~ gue keluar ya”
Jadilah hanya tinggal aku dan Radit didalam kelas. Aku biasa saja, tiba-tiba Radit menghampiriku.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Ucapnya.
“Em, apa?”
“Dari pertama ketemu, aku suka kamu. Dan sebenarnya, aku udah lama kenal Shafa”
“Jangan bilang kalian berdua sekongkol”
“Iyaa, kami memang bersekongkol untuk mengetest, apakah kamu suka sama aku atau enggak” Jelasnya.
“Lalu?” Tanyaku.
“Ya, aku suka kamu. Kamu gak paham?”
“Enggak”
“Huft, tunda aja deh” sepertinya dia frustasi.
“Eh jangan!!” Teriak Shafa dari luar. Aku tertawa.
“Gini, kita jadian, ya?” Ucap Radit.
“Aduh, maaf, Dit.. Aku gak bisa. Aku belum berani dengan itu. Kalau sahabat aja gimana?” Tanyaku.
“Begitu, ya? Kalau mau kamu begitu. Enggak apa apa kok” Jawab Radit.
“Okay, tapi aku janji. Kalau udah saatnya, aku bakal jawab permintaan kamu tadi”
“Baiklah..”
Lalu, semuanya berjalan seperti biasanya, setelah kejadian itu, tidak ada rasa canggung diantara kami. Yang ada, kami semakin dekat. Sebenarnya, aku mau menerimanya, hanya saja aku belum siap menerima resiko sakit hati.



Thanks for reading the story, guys J

Jumat, 21 Februari 2014

Cinta Dalam Persahabatan

*taman sekolah*
“Vanda”
“Yup?”
“Gue suka sama lu”
“Hah? Lu ngomong apaan?”
“Eh, enggak, itu tadi ada putri malu”
“Ohya? Dimana putri malunya?”
“Hem, udah pergi”
“Putri malu bisa jalan?”
“Hahahah, gue bercanda”
“Hahahahaha. Garing bercanda lo. Ke kantin yuk ah”
“Em, ayo”

Itulah kami. Kami bersahabat sejak kelas 1 smp, hingga sekarang kami sudah kelas 3 smp. Setiap orang yg lihat kami, mereka pasti mengira kalau kita pacaran. Padahal sih enggak. Sebenarnya, aku maunya kita bener-bener jadian. Tapi sampai sekarang, Raka belum ngomong apa-apa. Yah, iyaudah lah, udah deket kayak gini aja udah seneng banget kok.

“Raka! Happy Birthday! Hihihi” ucapku mengejutkannya.
“Ih, lo inget, Van?” Aku dapat melihat bahwa dia salah tingkah.
“Iyadong” Ucapku sambil nyengir lebar
“Em, gue tau, pasti mau minta traktiran..”
“Iyaa, kok pinter sih? Hahaha”
“Gak ada ah, Van. Gak ada traktir-traktiran. Gak ada duit gue..”
“Yah elu. Mie ayam aja gak apa apa deh”
“Beneran gak ada, Van.. Kalo ada juga gue kasih”
“Yah, iyaudah deh”
“Eh, jangan cemberut gitu dong”
“Enggak kok, siapa yg cemberut juga”
“Nah itu apa namanya kalo bukan cemberut? Iyaudah deh, besok gue traktir ya. Kalo sekarang gue gak bawa duit”
“Udah gak usah”
“Beneran gak mau?”
“Iya, gak usah ditawarin lagi. Gue pasti mau. Hahahaha”
“Alah, pake malu-malu monyet”
“Hahaha. Lu beneran gak bawa duit?”
“Bawa sih, cuma lima puluh ribu.. Gak cukup buat lu ama gue”
“Ih, cukup, Ka.. Mie ayam doang masa gak cukup sih”
“Masa mie ayam terus sih, Van? Lu gak bosan apa?”
“Yaa, bosan lah”
“Makanyaa...”
Ngobrol atau bercanda sama Raka emang beda, kayaknya lebih ada something special gitu. Tapi sayangnya aku gak pernah tau perasaan dia ke aku. Seandainya aku jadi dia, mungkin udh aku ungakpin perasaan ini dari dulu.
“Persahabatan kalo diubah jadi cinta, gak bakal enak, Van. Kalo kalian putus, pasti bakal jauh-jauhan deh..” Maudy mulai mengeluarkan wejangannya
“Tapi gue sayang banget sama Raka, Dy”
“Iya, gue ngerti. Persahabatan juga kan berarti rasa sayang.. Coba deh, kalo lo minta sesuatu ke Raka, dikasih gak?”
“Biasanya dikasih, tapi nggak langsung”
“Nggak langsung gimana, Van?”
“Iya, misalnya gue minta ditemenin ke toko buku hari ini, tapi baru ditemenin besok”
“Tapi selalu diturutinkan?”
“Iyaa”
“Nah, berarti dia juga sayang lo. Mungkin nih ya, mungkin aja dia tuh gakmau kalo persahabatan kalian rusak gara gara emosi sesaat”
“Gitu ya, tapi gue maunya kita pacaran”
Tiba-tiba Maudy terkejut. Aku bingung.
“DOR! Mau jadian sama siapa sih? Kok gak cerita-cerita sama gue?” Ucap Raka. Aku terkejut karena tiba-tiba ada dia dibelakangku. Aku takut dia mendengar semuanya.
“Gak kok, siapa yg mau jadian” Ucapku berusaha stay cool.
“Alah, spik mulu lo! Mau jadian sama gue ya, secara gue kan ganteng..” Ucap Raka. Jantungku berdebar, hampir terkena serangan jantung.
“Aih, ge-er banget lu. Eh, makan apa tuh? Bagi dong...”
“Celamitan banget sih. Nih”
“Haha, makasih Raka yg ganteng tapi gue boong”
“Ih, sama sama Vanda yang mirip nabilah tapi malah naudzubillah”
“Raka, dalem banget sih omongannya kayak sumur. Nyesek gue”
“Yah, maaf deh tuan putri”
“Bodo ah!” Aku langsung pergi.

Sebenarnya, aku gak benaran marah. Cuma mau tau aja, reaksi dia kayak gimana kalo aku ngambek.
“Vanda, lo marah ya? Maaf..” Ucapnya sok sok melas.
Hahaha, dia gak tau aja, padahal aku tertawa keras didalam hati. Hahaha maaf ya Raka, aku kerjain.
“Au. Yakali gue marah”
“Ah elu mah, padahal ntar malem mau gue ajak jalan”
“Serius, Ka? Ayo, kemana?”
“Aih, langsung semangat. Bisanya lu ya kayak gitu. Denger diajak jalan langsung gak marah. Gak jadi ah, males.”
“Ih, Raka? Kok jadi lu yang ngambek? Tadikan gue? Ah yaudah, gue ngambek!”
“Iyaudah ngambek aja”
“Rakaaaa....!”
“Bercanda-bercanda, iya ntar malam kita jalan”
“Yeayyy! Pokoknya, ntar malam lu traktir gue makan pizza”
“Ntar gendut lu”
“Bodo! Ohya, ntar malam juga lu harus beliin gue baju yg lucu-lucu, beliin gue novel romantis, beliin gue.....” tiba-tiba roti mendarat dimulutku.
“Bawel, makan nih roti”
“RAKAAAAAA..........!!!”
Bel pulang berbunyi, seperti biasa,  aku diantar pulang sama Raka. Jalan kaki. Ya, aku lebih senang jalan kaki daripada harus naik kendaraan. Seperti biasa pula, sembari jalan Raka menggandeng tanganku. Pemandangan yang biasa.
“Udah, jadian aja deh lu berdua” Ucap Nico.
“Apaansih, Co? Cuma sahabat kok” Aku mengelak.
“Tau lu, apaan sih” Elak Raka.
“Hahahah. Awas lu berdua sampai jadian. Pajak gak mau tau”
“Iya bawel lu, doain aja sih” Ucap Raka. Aku sangat terkejut.
“Tuhkan benar.. Hahahaha” Nico lari
“Ka?”
“Apa?”
“Em, enggak kok gak apa apa”
“Ohya, ntar malem, gue jemput lo jam 7 ya. Gak mau tau, pokoknya jam 7 udah harus rapih. Kalo nggak, gak jadi jalan.” Raka mengultimatum
“Iyaa bawel, gak mau tau juga, lu harus traktir gue makan, beliin baju dan novel.”
“Banyak permintaan”
“Bodo”
Aku sampai rumah, dirumah, aku kelimpungan gak jelas. Aku bingung harus pakai baju apa. Rasanya aku ingin tampil sempurna didepan Raka. Padahal, kita udah sering banget jalan. Tapi gak tau, aku ngerasa malam ini berbeda.
“Nyari apa sih, kak? Repot banget deh”
“Eh, mendingan lu bantuin gue cari baju yg pas buat ntar malam”
“Emang ntar malam mau kemana lu?”
“Mau jalan sama Raka. Udah buru bantuin, jangan bawel terus”
“MAMAAA.... KAK VANDA MAU JALAN SAMA KAK RAKAAAA....!!!!!” Tiba tiba Acha berteriak.
“Lu apaan sih bawel banget. Gue suruh bantuin, bukan ngadu. Biar aja, gak gue bawain makanan!” Ancamku, hihihi.
“Ada apa sih anak mama ribut gini?”
“Kak Vanda mau jalan sama Kak Raka, terus masa dia ngancam katanya aku gak dibawain makanan” Acha mengadu. Aduh, nih anak maunya apa coba.
“Iyaudah, Cha. Gak apa apa. Ntar malam kita juga pergi ya” Mama menenangkan Acha
“Sukurin wlee, gue juga mau pergi” Acha mengejekku
“Lah bodo. Mama bantuin aku deh cariin baju yang cocok buat nanti malem.” Pintaku pada mama
“Emang mau kemana? Restoran? Mall? Atau bioskop? Biar mama pasin bajunya”
“Em, ke mall.. Ya, ke mall”
“Iyaudah nih, pake ini aja” mama mengeluarkan blue jeans, tank top hitam dan blazer putih.
“Serius nih mah pake ini?”
“Iyalah, udah cepet. Masa mau pake gaun sih?”
“Hehe iya juga ya”
Akupun berganti pakaian. Mengikuti saran mama tadi. Setelah itu, aku sedikit berdandan. Natural aja, Cuma pakai blush on pink, eye shadow pink, lips stick pink dan maskara. Lalu rambut sedikit ku curly. Setelah kulihat jam, ternyata sudah jam tujuh kurang lima belas. Ya, lima belas menit lagi.
Kulihat jam, ternyata sudah jam tujuh lewat sepuluh menit. Belum ada tanda-tanda Raka datang. Aku bolak-balik, lalu saat jam setengah delapan, bel berbunyi. Pasti Raka! Akan kumaki dia. Aku buka pintu.
“Raka! Lo itu kemana ajasih baru datang jam segini? Lu janji kan....” Aku terperangah. Ternyata bukan Raka, itu polisi. Ya, itu polisi!
“Selamat malam” Ucap polisi itu.
“Iya, selamat malam. Ada yg bisa saya bantu, Pak?”
“Apa benar ini kediaman Vanda Handoko?”
“Iya, benar. Saya Vanda. Ada apa ya, Pak?
“Jadi begini, telah terjadi kecelakaan antara mobil sedan dengan truk. Setelah diselidiki, kami melihat panggilan terakhir dihandphone pengendara mobil sedan ini adalah nomor saudari. Maka dari itu kami kesini.”
“Ke.. Kecelakaan? Ma.. Maksud bapak, Raka? Raka kecelakaan?” Aku terkejut. Hampir menangis. Air mata sudah berkumpul dipelupuk mataku dan mengalir. Tidak, bukan hampir menangis. Aku sudah benar-benar menangis. Raka, kenapa bisa?
“Iya, sekarang, korban sedang menuju kerumah sakit”
Tanpa basa-basi aku langsung menyambar tas dan pergi bersama polisi itu. Diperjalanan, aku terus mencoba menghubungi keluarga Raka. Untung saja, aku masih menyimpan nomor mama Raka, langsung saja kutelepon.
‘Assalamualaikum’
‘Waalaikumsalam’
‘Ibu, ini saya, Vanda. Teman Raka. Em, ibu bisa datang kerumah sakit sekarang juga?’
‘Kerumah sakit? Untuk apa ya, nak?’
‘Begini, bu. Saya sedang mengantar Raka periksa kesehatan. Bisa ibu bawakan surat riwayat hidup Raka? Bisa, bu?’
‘Oh, bisa-bisa. Sekarang juga ibu kesana. Terima kasih ya, nak’
‘Sama-sama, bu. Assalamualaikum’
‘Waalaikumsalam’
*rumah sakit*
Aku duduk diruang tunggu menunggu dokter keluar dan ibu Raka datang. Tak lama kemudian, dokter keluar. Langsung kuhampiri dokter itu.
“Dok, bagaimana keadaan Raka?”
“Pasien sudah ditangani, sampai saat ini pasien masih dalam keadaan koma”
“Boleh saya masuk, dok?”
“Silahkan. Saya permisi dulu”
“Baik, dok. Terima kasih”
“Iya, sama-sama”
*dalam ICU*
“Raka, bangun, Ka.. Kata lo, kita mau jalan. Ayo bangun.. Inikan masih hari ulang tahun lo. Ayo, Ka, bangun. Liat disini ada gue. Gue sayang sama lo, Ka” Aku menangis sejadi-jadinya, aku takut kehilangan Raka. Gak, gak boleh. Raka gak boleh kemana-mana.. Raka harus disini! Harus! Ah, aku baru ingat. Ibu Raka! Ya, pasti dia mencariku.
“Raka, aku keluar sebentar. Kamu cepet siuman ya, kamu kan kuat” Aku mengusap air mataku, lalu bergegas keluar. Beberapa meter dari ICU, kulihat Ibu Raka disana. Langsung kuhampiri dia.
“Ibuu” Aku menangis dipelukan Ibu Raka
“Kamu kenapa, nak? Raka mana?”
“Raka, bu.. Raka kecelakaan” Aku menangis sejadi-jadinya
“A.. Apa? Kecelakaan?”
“Iyaa, bu.. Maafin Vanda. Tadi pas Vanda telepon ibu, itu Raka udah kecelakaan. Vanda gak mau bikin Ibu panik.. Makanya Vanda bohong.. Maafin Vanda, bu”
“I.. Iyaa, nak. Gak apa apa. Kamu gak apa apakan?”
“Enggak, bu. Vanda gak apa apa, karena Raka kecelakaan saat menuju rumah Vanda, bu”
“Sekarang dimana Raka, nak? Dimana?”
“Diruang ICU itu, bu”
“Iyasudah, mari kita kesana”
Aku bersama Ibu Raka langsung keruang ICU. Raka belum juga sadar. Kulihat jam, ternyata sudah jam 9malam.
“Vanda, kamu pulang aja, nak. Ibu takut kamu sakit”
“Enggak, bu. Ibu aja istirahat, besok Vanda masuk siang. Jadi pas Vanda pulang ibu udah kesini”
“Kamu beneran gak apa apa, nak?”
“Iyaa, bu. Gak apa-apa. Udah, ibu pulang aja ya”
“Iyaudah kalo gitu, ibu pulang ya. Tolong kabari ibu kalo ada apa apa ya”
“Iyaa, bu”
Ibu Raka pun pulang. Aku sendiri disini, aku menatap Raka. Seandainya aja aku gak minta jalan, pasti semuanya gak bakal kayak gini.
“Raka, maafin gue ya.. Gara gara gue, lo jadi kayak gini. Gue tau, Ka, gue salah. Please, Ka, bangun.. Ada yg mau gue omongin sama lo.. Bangun, Ka”
Aku pun tertidur. Jam 2pagi, aku merasa ada sesuatu yg memegang tanganku dengan perlahan, sangat pelan. Aku terbangun, ternyata Raka! Raka sadar! Aku keluar mencari dokter ataupun suster.
“Suster, Raka sus! Dia sadar!”
“Raka? Pasien kecelakaan semalam?”
“Iyaa, sus! Dia sadar! Dia bangun dari komanya”
“Baik, saya akan kesana sekarang juga”
Aku dan suster tersebut kembali ke ICU, aku diminta untuk tunggu diluar. Baiklah, tapi aku sangat senang. Raka kembali! Em, Ibunya. Ya, aku harus memberi tau Ibunya. Aku mencari teleponku dan menelepon Ibunya.
‘Assalamualaikum, bu”
‘Waalaikumsalam. Ada perkembangan apa, nak?’
‘Em, Raka, bu! Raka sadar!’
‘Alhamdulillah, kamu gak bercanda kan?’
‘Enggak, bu. Vanda serius’
‘Iyasudah, Ibu kesana sekarang juga. Assalamualaikum’
‘Waalaikumsalam’
Suster keluar. Ia bilang, besok pagi Raka sudah akan dipindahkan kekamar rawat inap. Aku langsung masuk lagi.
‘”Raka..”
“Vanda” Ia tersenyum. Senyumnya menyimpan kesedihan juga kebahagiaan. Aku bisa melihatnya.
“Lu tidur aja ya, Ka. Masih dini hari juga. Kita lanjut ngobrol besok pagi, ya”
“Iyaa” Rakapun tidur.
Aku sangat senang, aku tau dia kuat. Dia hanya beberapa jam melewati komanya. Sungguh suatu anugrah. Sebenarnya, aku juga sangat senang karena orang pertama yg dia lihat saat dia sadar adalah aku. Ini membuatku bahagia. Lalu kudengar pintu terbuka.
“Nak” Suara perempuan itu. Aku yakin dia Ibu Raka. Aku menoleh kearahnya.
“Ibu, Raka sudah tertidur kembali.. Suster bilang, besok pagi Raka akan segera dipindahkan kekamar rawat inap”
“Alhamdulillah, apa yg Raka katakan saat Ia sadar?”
“Em, Raka hanya memanggil Vanda, bu. Itu saja.”
Keesokan paginya, Raka dipindahkan keruang rawat inap. Aku izin pulang karena akan sekolah. Disekolah, yang aku pikirkan hanya Raka. Teman sekolah tidak ada yg tau atas kejadian ini.
“Eh, lo kenapa, Van? Ngelamun terus daritadi” Ucap seseorang. Ternyata Maudy.
“Em, Raka.. Raka kecelakaan”
“RAKA KECELAKAAN?!!”
“Sstt, iyaa.. Semalam.”
“Terus? Kondisi dia sekarang gimana?”
“Semalam sempat koma, tapi sekarang udah sadar”
“Oh, baiklah..”
“Iyaa, nanti pulang sekolah, gue mau kerumah sakit lagi. Jagain Raka, lo mau ikut?”
“Boleh, deh”
“Iyaudah”
Bel pulang berbunyi. Aku dan Maudy langsung bergegas kerumah sakit. Jam 7 malam kita baru sampai disana karena macet.
“Ibu”
“Eh, Vanda”
“Raka udah bangun lagi, bu?”
“Iyaa, tadi bangun jam empat sore. Eh, itu ada Maudy juga ya”
“Iya, tante.. Aku mau temenin Vanda untuk jagain Raka”
“Oh, terima kasih ya”
“Iyaa, tante”
“Ibu pulang aja, besok pagikan ibu harus kesini lagi”
“Iyaa, ibu pulang yaa.. Kalo ada apa apa telepon ibu”
“Iyaa, pasti tante” Maudy tersenyum.
“Iyasudah, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Tidak lama kemudian, Raka terbangun.
“Vanda, Raka bangun tuh!” Ucap Maudy. Aku sedang berganti pakaian.
“Ah, iyaa. Tunggu sebentar” Ucapku lalu cepat-cepat keluar.
“Raka”
“Hai, Vanda, Maudy.. Dari kapan kalian disini?”
“Em, baru kok” Sahut Maudy.
“Oh.. Em, Vanda..”
“Iyaa, kenapa?”
“Gue mau jujur”
“Jujur apa?”
“Gue suka sama lu”
“Ow, kayaknya gue musti keluar dulu ya.. Bye” Ledek Maudy sembari berlalu keluar.
“Vanda” Panggil Raka.
“I.. Iyaa?” Sahutku. Andai saja ia tau bahwa 1menit lalu aku hampir terkena serangan jantung.
“Gue sayang sama lu, Van. Lu mau kan jadi pacar gue?”
“Raka? Lo jangan ngawur deh”
“Gue serius, Van.. Lo boleh kok kalo mau tolak permintaan gue”
“Sejujurnya sih, emang dari dulu gue suka sama lu”
“Jadi, lu mau?”
“Iyaaa” aku tersipu malu.
Maudy kembali masuk, kami sedang berpegangan tangan.
“Gimana? Udah jadian kan?”
“Hahahha. Tuh, Ka, Maudy tanya.. Kamu yang jawab aja deh”
“Kayaknya gak perlu dijawab deh. Gue udah tau jawabannya, ngomongnya aja udah pake aku-kamu. Pj lah gak mau tau”
“Hahahaha, iyaa ntar kalo gue udah keluar dari sini” jawab Raka.
“Kamu makan dulu ya, Ka”
“Iyaa”
“O ow.. Gue dikacangin nih kayaknya” Maudy sok-sok an ngambek.
“Enggak, kok.. Makanya lu nyusul buru” Sahutku
“Iyadah, yang udh punya mah beda..”
Kami tertawa. Seandainya Raka tidak kecelakaan, apakah ini akan terjadi? Iyasudah lah, mungkin skenario Tuhan seperti ini.

Thanks for reading the story, guys J